Powered By Blogger

Profile

Foto saya
Just the notes to make my mind development as a journal.

Rencana Indah

| Minggu, 14 Agustus 2011 | 0 komentar |
Sering kali kita mendengar kata "rencana Tuhan indah pada waktunya", dan banyak yang mengangguk-angguk setuju akan hal ini. Tetapi pernahkah kita pikirkan lagi mengenai kata "Rencana Indah" ini ?


Contoh nyata :


- Ada seorang pria yang kehilangan istri dan kedua anaknya, rumah dan seluruh hartanya sewaktu jebolnya tanggul Situ Gintung, dan orang yang menghiburnya mengatakan "Sabar ya pak, Tuhan punya rencana indah untuk mereka (dan bapak)".


- Kelaparan yang melanda negara-negara di afrika (Somalia, Ethiopia, dll) yang tidak berkesudahan. Rencana indah apa dari Tuhan untuk mereka?


Berikut adalah diskusi dari theist dan atheist yang saya singkat dengan (T)heist dan (A)theist.


T : Manusia tidak berhak mengatakan Tuhan kejam, analoginya adalah sebagai berikut: Apakah setiap pengemis yang datang meminta uang kepadamu, pasti kamu kasih? Saya yakin pasti tidak, ada yang tidak kamu kasih dan sebagian yang kamu kasih. Apakah kamu dipersalahkan jika kamu tidak memberikan mereka uang? Tentu tidak kan? Kamu bebas memberi, kamu bebas tidak memberi dan kamu tidak bisa dipersalahkan."


A : Premis di atas akan terasa tidak logis, apabila kita padankan dengan atribut maha kuasa dan maha kasih yang disematkan pada Tuhan karena jika saya maha kuasa dan maha kasih, there wouldn't even be a beggar at the first place. Let's talk bigger. Konon, suatu hari Yesus menyembuhkan mata orang buta. Karena KASIH? Mengapa tidak sekalian menghilangkan KEBUTAAN pada manusia?


T: Tuhan tidak mempunyai kewajiban untuk itu. Seperti halnya Bill Gates, andai pun Anda sekaya diapun, Anda tidak dapat dipersalahkan jika tidak memberi. Tuhan TIDAK wajib menghilangkan kebutaan.


A : Tepat sekali! Saya punya 1000 kursi roda. Tidak terpakai. Ditaruh begitu saja di halaman. Lantas datang seorang suami yang memanggul istrinya karena istrinya lumpuh ke rumah saya. Ia memohon saya memberikan satu saja dari kursi roda itu. Saya TIDAK MAU memberikan! Apakah saya bisa dipersalahkan? TIDAK! Hak saya mau kasih atau tidak!
Itu juga kursi roda milik saya! Apakah saya wajib memberikan? TIDAK!
Kenal aja nggak. Ngapain saya sampai ada kewajiban?


Sampai di sini pembelaan saya pada diri saya sendiri sama persis dengan pembelaan kamu pada Tuhan kamu itu. Nah sekarang:


Saya wajib memberikan kursi roda itu? TIDAK.
Bersalahkah saya karena tidak melakukannya? TIDAK
Apakah keengganan, penolakan saya memberikan 1 saja dari 1000 kursi saya itu kepada wanita lumpuh itu membuat saya terlihat brengsek dan membuat saya menjadi seorang asshole? Sudah pasti.


Saya TIDAK menyalahkan Tuhan Anda karena ia lebih suka mengabulkan doa orang dapat jodoh, dapat pekerjaan, membuat Anda lulus ujian daripada memberi makan jutaan anak berbalut tulang di Somalia. Saya juga TIDAK
bilang Tuhan kamu WAJIB melakukan ini dan itu. Tapi keengganannya, ketidakmauannya dan penolakannya itulah yang membuat ia terlihat brengsek dan kejam di mata saya. Paham sekarang?


Nah sekarang, bagaimana bila tiba-tiba ada fans berat saya datang, menghadang di depan pintu, lalu berkata pada sepasang suami istri malang itu bahwa saya punya rencana indah dengan tidak mau memberikan 1 dari 1000 kursi roda itu? Kedengaran menggelikan sekali, bukan?


----- END OF DISCUSSION -----


Memang, terkadang tampak seperti ada berkah di balik musibah. Blessing in disguise. Seorang pemuda patah kaki ketika berburu sehingga harusdi rawat berminggu-minggu di rumah dan menjadi tidak produktif. Kemudian, tiba-tiba saja ada pengumuman raja sedang mewajibkan para pemuda menjadi serdadu. Pemuda ini selamat dari menjadi serdadu paksaan karena para serdadu yang menjemput ke desanya melihat kakinya yang patah.


Hanya saja "Rencana Indah" ini penggunaannya semakin di-abuse. Tidak pandang bulu lagi, kata ini dihambur-hamburkan tanpa memandang perasaan orang lagi. Pokoknya, musibah = rencana indah dibaliknya. Mau ngap karena tsunami kek, mau gepeng ketimpa beton gempa bumi kek, mau kehilangan suami/istri/anak kek, semuanya rencana indah.


Pada contoh korban Situ Gintung di atas, maukah Anda mendapatkan rencana indah dengan syarat harus kehilangan suami/istri + seluruh anak + rumah + harta? Makhluk macam apa yang memberikan sesuatu yang lebih "indah" lagi dengan cara menenggelamkan istri dan anak-anaknya?


So, setiap kali saya mendengar "rencana Tuhan akan indah pada waktunya", saya tidak bisa tahan untuk tidak berpikir: Mengapa suatu sosok yang serba tahu perlu punya rencana?


Surjanto Kwe  http://www.facebook.com/surjanto.kwe

Menalar Kembali Atheisme Richard Dawkins; Suatu Pemahasan dalam Nalar Filsafat Ketuhanan

| Rabu, 13 Juli 2011 | 0 komentar |
Diawali dengan pengenalan Plato sekitar abad ke 3 sebelum masehi pada konsepsi dunia idealnya yang selama ini dapatlah kita pahami sebagai salah satu konsepsi paling dasar dari upaya eksplanasi sebuah unsur transenden adi kodrati yang kelak peradaban selanjutnya definisikan dalam terminologi Tuhan[1]. Pada rangkaian tradisi filsafat barat selanjutnya pun menaruh perhatian yang begitu besar dalam kaitannya dengan terminologi dalam filsafat ketuhanan, yang mana menemukan kejayaannya pada abad pertengahan. Bahkan akibat terpusatnya pada konsepsi ketuhanan yang terlampau marak dan juga karena otoritas gereja yang begitu kuat saat itu filsafat bukan saja “hanya” terlampau fokus dalam terminologi Tuhan bahkan filsaat seakan-akan telah menjadi hamba bagi teologi, “ancila theologia”[2]. Sampai pada era itu terminologi Tuhan masih mengalun dalam harmonisasi pemikiran yang dalam tendensi mengafirmasi keberadannya.
Akan tetapi, rasa ingin tahu manusia yang begitu besar telah membawa perubahan yang begitu signifikan dalam ranah filsafat ketuhanan. Filsafat ketuhanan yang sampai awal abad pertengahan menjalankan fungsi sebagai uapaya rasional logis yang mencoba menjelaskan Tuhan kemudian mengalami transformasi seiring dengan gerak roda peradaban, hentakan tersebut diawali dengan menyeruaknya konsep heliosentris yang diperkenalkan di sekitar abad 16 oleh Copernicus yang menyatakan bahwa pusat dari tata surya bukanlah bumi sebagaimana dikatakan dalam alkitab[3] melainkan matahari. Hal tersebut telah memberikan suatu gebrakan besar yang tak terelakan dalam tradisi teologis theistik saat itu, tafsir ketat tekstual akan kitab studi terkhusus kitab perjanjian lama yang menyatakan bumi sebagai pusat semessta seakan menemui ajalnya.
Kejayaan kerangka pikir positivistis logis yang menjadi sebuah narasi besar di sekitar penghujung era modern pun terus memberi tantangan bagi kaum teistik untuk kembali merekonstruksi posisinya, dalam artian filsafat ketuhanan pada akhirnya bukan hanya menjadi sebuah benteng pertahanan bagi teisme namun juga sekaligus senjata ampuh bagi atheisme untuk menyerang tradisi besar teologis ataupun theisme secara umum. Sebut saja Karl Marx yang sekalipun baru berbicara dalam tatanan anti agama yang dianggapnya sebagai candu masyarakat, Freud yang dengan pendekatan psikoanalisanya menyatakan Tuhan sebagai ilusi hasil represi alam bawah sadar ataupun Daniel C. Dennet yang cukup dikenal sebagai tokoh atheisme kontemporer. Akan tetapi dalam pembahasan ini penulis tidak akan memberikan uraian terhdap ketiga tokoh atheisme tersebut, dalam pembahasan ini akan kita batasi dengan manjadikan Richard Dawkins sebagai bahasan utama karena penulis menganggap Dawkins selain berangkat dari pendekatan yang lebih pop juga penulis anggap dapat mencerminkan runutan atheisme yang hendak diperkenalkan dalam pembahasan ini.
Sehingga pada akhirnya apa yang menjadi pembahasan kali ini akan dibatasi dalam ranah memahami apa yang dijadikan konsepsi ateisme dari seorang kelahiran Nairobi, Kenya yang bernama Richard Darwkins dimana kritik sebagai tujuan akhirnya sehingga terlebih dahulu pembahasan akan menerangkan apa pandangan Dawkins terkait filsafat ketuhanan, apa yang menjadi pendasaran bagi pandangannya tersebut dan terakhir pembahasan akan diakhiri dengan kritik akan konstruksi akan pemikirannya.
Kerangka dasar
Menyelaraskan Atheisme dan seorang Richard Dawkins bukanlah suatu hal yang aneh, Dawkins sendiri melalui karya-karyanya memang dengan secara gamblang memperkenalkan konsepsi atheisme. Pada rangkaian awalnya atheisme diperkenalkan Dawkins merupakan respon dari serangkaian kejadian yang membuktikan bahwa agama kerap kali malah menjelma sebagai fundamen absolutnya bagi kejadian yang merusak ataupun melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Ditambah lagi menurutnya agama terkhusus agama-agama besar semisal agama semitis telah memberikan perlakuan yang tidak adil dalam kehidupan bermasyarakat. Uraian pada bab ini merupakan suatu pembahasan yang mencoba memperkenalkan sekaligus menarik pembedaan antara atheisme yang selama ini kenal dan atheisme yang sesungguhnya dijunjung Dawkins.
Lebih jauh, Richard Dawkins melalui buku-buku karangannya yakni; The Selfish Gene (1976), The Extended Phenotype (1982), River Out of Eden (1995) , Climbing Mount Improbable(1996), Unweaving the Rainbow (1998), A Devil’s Chaplain (2003), The Ancestor’s Tale(2004) , The God Delusion (2006) , The Greatest Show on Earth (2009) sekalipun berbicara tentang berbagai varian berbeda namun secara umum keseluruhannya memperkenalkan atheisme sebagai sebuah kepercayaan, bukan lagi sebuah ketidak percayaan. Bahwa memang atheisme beranjak dengan pada awalnya menegasikan eksistensi Tuhan menurut Richard Dawkins cukup menjadi batu pijakan awal, tidak lebih. Dalam artian bahwa atheisme menurutnya juga merupakan perjuangan emansipatoris dimana atheisme tidaklah hanya bergerak dalam ranah religiusitas namun juga masuk ke dalam ranah sosio politik yang praktis tidak lagi hanya sekedar wacana dalam ranah perdebatan konseptual.
Ilustrasi 1
Ilustrasi di atas merupakan salah satu contoh yang menunjukan bagaimana atheisme dalam opini umum yang kurang lebih menjadi keluhan yang dilontarkan Dawkins dimana atheis sebagai terminologi telah dilekatakan oleh anekdot keseharian, antara lain kaum atheis yang dianggap memiliki kebebasan yang terlalu berlebih sehingga pada akhirnya melupakan tuhan; kaum atheis yang selama ini dianggap jatuh pada dekadensi moral, dll. Menanggapi anekdot yang beredar dalam masyarakat tersebut dawkins menjawabnya dengan menyatakan bahwa tidak ada bukti akan hal tersebut malah sebagaimana dijabarkan dalam data yang didapat Dawkins[4].
Sekalikpun Dawkins menolak beberapa aspek pada ilustrasi 1 di atas untuk dilekatkan pada atheisme , namun tidak berarti ilustrasi tersebut salah secara keseluruhan. Ada beberapa hal yang penulis pikir sesuai dengan pandangan yang diperkenalkan Richad Dawkins yakni bahwa penekanan atheisme yang dijunjung Dawkins memang sejatinya berasal dari konsekuensi logis dalam ilmu alam, dan terkhusus teori evolusi yang diperkenalkan Darwin di sekitar abad 19. Sehingga ungkapan yang menyatakan individu pada ilustrasi di atas merupakan keturunan dari monyet dengan segala cirinya (dalam ilustrasi di atas hanya disebutkan salah satu cirinya) sekalipun mungkin memang ditujukan sebagai ejekan namun bagi Dawkins hal tersebut merupakan tata keniscayaan yang tidak terelakan.
Tentu saja kepercayaan tersebut bukanlah aksi intuitif yang sifatnya spekulasi belaka, mengingat pendasaran Dawkins berangkat dari pribadinya yang seorang akademisi zoologi yang tentu saja akrab dengan biologi secara umum. Tentang bagaimana derivasi dari runut pemikiran Darwin terkait hal tersebut dan tentunya atheisme akan dibahas pada uraian di bab-bab selanjutnya.
Dalil Pengingkaran Eksistensi Tuhan
Sebelum berangkat lebih jauh untuk dapat menalar atheisme Dawkins secara utuh, bab ini akan mencoba memperkenalkan dalil-dalil dari seorang Richard Dawkins dalam bukunya yang berjudul “God Delusion” dimana ia mencoba mengungkapkan argumennya dalam dua jalan yang berbeda sekalipun memang pararel. Jalan pertama argumen Dawknis berangkat dengan menegasikan terlebih dahulu segala rangkaian argumen yang menuju pengafirmasian keberadaan eksistensi Tuhan , sedangkan jalan yang kedua langsung menyerang sebagai argumen yang menjelaskan mengapa hampir pasti eksistemsi Tuhan tidak ada.[5]
Bahwa memang terminologi naturalistik, evolusi, seleksi alam dan lain-lain akan banyak disebutkan, akan tetapi memang belum akan dibahas secara mendalam di bab ini dengan alasan bab ini memang merupakan pengenalan dan pembahasan serta analisi baru akan kita bahas dalam bab”merunut derivasi nalar Dawkins.”
Adapun argumen yang berangkat dengan menegasikan terlebih dahulu segala rangkaian argumen yang menuju pengafirmasian keberadaan eksistensi Tuhan, yang saya sebut sebagai jalan pertama adalah sebgai berikut[6] :
Argumen “The Ultimate Boeing 747”
Argumen ini sesungguhnya berangkat dari rangkaian teminologi yang diperkenalkan oleh seorang astronom berkebangsaan Inggris bernama Fred Hoyle. Dimana Daekins melengkapai pernyataan Hoyle yang sering dipinjam kaum kresionisme yakni bahwa probabilitas kehidupan di bumi lebih kecil daripada kemungkinan badai menyapu potongan-potongan besi dan merangkai sebuah boeing 747 yang ditanggapi Dawkins dengan menyatakan bahwa hal tersebut (argumen Hoyle) justru haruslah dipandang sebagai argume yang menegaskan ketiadaan eksistensi Tuhan. Hal tersebut disebabkan oleh karena menerima keberadaan Tuhansama sulitnya dengan menerima keberadaan badai yang mampu merangkai Boeing 747.
§ Natural Selection as a Consciousness-Raiser
Dalam argumen ini Dawkins mencoba menjelaskan mengapa eksistensi Tuhan tidak dimungkinkan dengan berangkat dari keberadaan alam semesta beserta isinya yang sebenarnya dapat dijelaskan dengan sangat baik oleh teori evolusi yang diperkenalkan oleh Charles Darwin yang menekankan kosepsi seleksi alam. Menurut Dawkins Seleksi alam juga merupakan variabel kompleks namun tunggal juga mengangkat/membangkitkan kesadaran individu manusia.
§ irreducible complexity atau “kompleksitas takterkurangi”
Seperti halnya argumen “boeing 747”, argumen ini juga dipinjam Dawkins dari pemikir lain, kali ini Dawkins meminjamnya dari pengarang “Darwin’s Black Box” yang terbit di tahun 1996 yaitu Michael Behe. Dimana argumen ini menyatakan bahwa ada beberapa bagian dari sistem organisme biologis yang terlalu sederhana untuk dapat berevolusi namun juga terlalu kompleks untuk dapat bermutasi. Akan tetapi dengan mudah Dawkins menyanggahnya dengan mengatakan bahwa tidak ada hal yang lolos dari konsepsi evolusi, sehingga pengegrtian yang ditawarkan oleh Michael Behe juga tidak valid menurut Dawkins. Sebagai contoh adalag permasalahan organ mata pada manusia.
§ The Worship of Gaps
Atau dalam terjemahan bebas berarti penyembahan akan kekosongan. Sesuai namnya argumen ini amenyatakan bahwa apabila ada sebuauh kekosongan yang dianggap belum mampu dijelaskan oleh a\ilmu pengetahuan terkhusus ilmu alam. Sebenarnya argumen ini lebih ditujukan kepada kaum creationism yang dituding Dawkins terlalu berspekulasi dan menyembah kekosongan perihal proses penciptaan alam dengan menyatakan Tuhan sebagai penciptanya. Kekosongan ini, menurut Dawkins telah dibuktikan sifatnya hanya sementara dan penyembahan akan kekosongan ini malah akan semakin membuktikan bahwa penyembahan yang dilakukan mengada-ada.
§ The Anthropic Principle : Planetary Version dan Cosmological Version
Dalam Argumen ini Dawkins menekankan bahwa sejatinya prinsip antropi (Anthropic Principle) yang menyatakan bahwa awal kehidupan dari semesta terjadi dengan dukungan konstanta fisika serta kimia dalam kaloborasi bukan karena diciptakan Tuhan namun karena mekanisme alam. Jadi sebenarya argumen ini juga tidak jauh berbeda dengan argumen sebelumnya (The Worship of Gaps) yang menyerang ranah yang sama yakni perihal hal-hal yang belum dapat dijelaskan science namun dijadikan wilayah dalam rangka menyembah Tuhan.
Adapun argumen yang masuk dalam kategorisasi jalan kedua adalah serangkaian penolakan akan konsepsi : 5 jalan pembuktian Tuhan menurut Thomas Aquinas . kedua, argumen dari keindahan (The argument from beauty ) ; argumen dari pengalaman spiritual pribadi (Theargument from personal’experience’); Argumen dari kitab suci (The argument from scripture) ; argumen Pascal’s Wager; argumen Bayesian. Yang menurut Dawkins terlalu spekulatif dan pada akhirnya mengada-ada[7]. Namun yang jelas bahwa pada akhirnya uraian ini menunjukan bahwa Dawkins dalam upayanya membuktikan ketiadaan eksistensi Tuhan juga merunut dari konsepsi panjang yang membangunnya baru kemudian merubuhkannya.
Merunut Derivasi Nalar Dawkins
Melihat uraian dalam pembahasan pada bab sebelumnya soal rangkaian argumen Dawkins, ia mempunyai kerangka penalaran tersendiri yang menjadikan segenap argumen-argumen tersebut terkesan mempunyai satu runut. Menjadi pembahasan dalam bab ini adalah bagaimana dan darimana derivasi nalar Dawkins dalam mengeluarkan serangkaian argumen yang ada sehingga kaitan dengan perunutan yang mengacu pada pertanyaan validitas dalam penalaran pemikiran Dawkins juga tidak dapat dihindarkan.
Seperti yang sudah terlihat dan bahkan sudah di singgung dalam uraian awal, Dawkins memang mendasari segala rangkaian penalarannya dalam basis terminologi naturalistik mengingat Dawkins dalam nalarnya cukup menjunjung teori evolusi dari Darwin.Sekalipuin dalam banyak kesempatan banyak kita temui Dawkins memakai teori evolusi dalam penekanannya, namun hal tersebut belumlah mampu menerangkan apa itu sesungguhnya naturalisme dan darimana derivasi validitasnya? Naturalisme sebenarnya merupakan sebuah kerangka pikir yang hanya percaya bahwa apapu itu “bersifat nyata dan merupakan sesuatu yang terdapat dalam ruang dan waktu tertentu[8]” . Jadi jelaslah pula soal permasalahan validitas dari nalar Darwin yang hadir dalam nuansa deterministik khas naturalisme, dalam artian bahwa derministik atau kausalitas yang ditekankan Dawkins membatasi pada mekanisme ke-alam-an yang tentunya terikat konsepsi spasiotemporal.
Merunut lebih jauh ke belakang sesungguhnya naturalisme tidak lain merupakan hasil dari derivasi epistemogis materialisme dalam penekanan empiria juga keketatan berpikir khas positivisme logis. Sehingga realitas yang sebenarnya dalam kerangka nalar Darwin selalu berkutat dalam kerangka penangkapan indrawi juga haruslah dapat diuji kembali dalam pengulangan verivikasi dalam kemeruangan dan kewaktuan yang lain.
Berangkat dari pemahaman derivasi akan nalar Dawkins dapat dimengerti bahwa naturalisme yang dijunjungnya selama ini merupakan pengetahuan dalam upaya memahami kejadian-kejadian dalam relasional kausalitas. Realitas lain yang di luar prinsip-prinsip yang telah dijelaskan bagi Dawkins merupakan oposisi dari realitas sebenarnya, begitupun konsepsi perihal tentang Tuhan dimana Richard Dawkins menyebutnya sebagai delusi. Disebut sebagai delusi tidak lain karena menurutnya peradaban dalam nuansa keagamaan terkshusus afirmasi terhadap Tuhan telah membawa manusia pada kepercayaan yang irasional dalam artian tanpa pendasaran ilmiah[9] sehingga Tuhan tidaklah lebih dari delusi belaka yang sebenarnya malah menjauhkan peradaban manusia dari kenyataan/ realitas sebenarnya.
Menentang kreasionisme dengan konsepsi evolusionisme
Terkait dengan konsepsi awal semeta, sebagai konsekuensi logis dari derivasi penalarannya mencoba menjelaskan kemengadaan semesta melalui kerangka pikir evolusionisme. Mungkin secara singkat pembahasan tentang evolusionisme telah diperkenalkan sebelumnya dalam bab dalil pengingkaran eksistensi Tuhan, namun dalam bab ini penulis akan mencoba lebih mendalami problematika yang terkait di dalamnya yang tentu saja masih menggunakan perspektif Dawkins sebagai sudut pandang utamanya.
Pada dasarnya argumen evolusionisme berpendirian bahwa alam semesra terjadi akibat mekanisme kausalitas yang melibatkan variabel unsur kimia juga fisika dalam mekanismenya. Alam bukan diciptakan melainkan terciptakan, tidak ada “grand design” sebagaimana yang dipercaya kaum kreasionisme sehingga tidak diperlukan Tuhan dalam terciptanya alam semesta karena semesta tidak lain adalah ketidaksengajaan yang mengaktualisasi posibilitas yang ada. Artinya alam dengan segala keteraturannya merupakan mekanisme yang ‘tidak disengaja’ yang mana hal tersebut dapat dijelaskan melalui science.
Dalam bukunya The God Delusion (2006) Dawkins dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang yang percaya pada kerangka kreasionisme tidak lebih dari sekumpulan orang yang tidak berani, malas dan juga tidak rasional karena tidak berusaha menjelaskan alam sebagaimana fenomena kausalitas yang dapat dijelaskan oleh science namun malah mempostulatkan kehadiran Tuhan sebagai pencipta yang dinilainya tanpa pendasaran yang cukup kuat. Dawkins menganggap bahwa hal tersebut adalah upaya mencari jalan keluar yang singkat dari hal-hal yang belum dapat dijelaskan oleh alam, lebih jauh menurutnya data-data serta pengetahuan yang ada sekarang sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menyimpulkan bahwa evolusionisme adalah benar dan telah berjalan dalam semesta.
Meme dan gen
Bahwa memang kerangka atheisme Dawkins telah dengan susah payah menjabarkan bagaimana semesta terbentuk dalam upaya penolakan keberadaan Tuhan sebagai sang pencipta, namun hal tersebut belum sama sekali belum dapat sama sekali menegasikan keberadaan Tuhan sebagai sebuah konsepsi yang senantiasa beredar dalam peradaban manusia. Singkatnya Dawkins sekalipun mencerca Tuhan sebagai delusi belum dapat menjawab argumen yang menyatakan bahwa ‘apabila memang Tuhan tidak ada, lalu kenapa konsepsinya bisa mengada di tengah-tengah manusia’.
Konsepsi evolusi yang selama ini memang menyediakan berbagai perangkat dalam kaitannya dengan hal ini, tidak dapat dipergunakannya apaila hanya dijawab dengan menggunakan konsepsi gen. Dimana dalam bukunya the selfish gene, gen dalam eksplanasi Dawkins menyatahan The genes too control the behaviour of their survival machines, not directly with their fingers on puppet strings, but indirectly like thecomputer programmer. All they can do is to set it up beforehand; thenthe survival machine is on its own, and the genes can only sit passively inside[10]. sebagai unsur terkecil dalam mekanisme evolusi makhluk hidup. Gen menjalankan keegoisannya dengan mempertahankan dirinya, mempertahankan diri gen dalam bentuk mereplika dirinya konsekuensinya menarik bahwa replika tersebut juga menurunkan sifat-sifat bawaan yang hereditoris. Sehingga apabila menggunakan konsepsi gen untuk menjawab maka Dawkins akan terjebak pada kesimpulan bahwa Tuhan adalah memang ada dan diturunkan oleh gen sebagai bukti ilmiahnya.
Akan tetapi Dawkins tetap bersikukuh menolak eksistensi keberadaan Tuhan sehingga satu-satunya jalan untuk menolak hal tersebut dan tetap konsisten dengan teori evolusi yang selama ini dijunjungnya adalah dengan merumuskan konsepsi tentang meme. Dimana meme berbeda dengan gen, meme memang masih dalam fungsi replikator dalam runut evolusi akan tetapi meme terikat dalam fungsi kultural bukan lagi hanya biologis seperti halnya gen.
Apa yang hendak disampaikan oleh Dawkins dengan memunculkan konsepsi meme memang masih dalam kaitannya denga menjawab problematika konsepsi Tuhan yang bisa ada dalam peradaban dan tidak mampu dijawab dengan konsepsi gen. Dengan keberadaan meme Dawkins mencoba menjawabnya, yakni konsepsi Tuhan memang mengada dalam peradaban akan tetapi hal tersebut bukanlah suatau kemungkinan mutlak realitas namun tidak lebih dari penyimpangan kultural yang bisa bertahan karena dijembatani oleh meme.
Kesimpulan
Merunut pambahasan ini dari awal jelas dapat kita simpulkan bahwa Dawkins memang memberikan sumbangsih yang besar dalam tradisi pemikiran filsafat Islam dimana ia dengan gigih mempertahankan nalar atheismenya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jelas pula bahwa nalarnya akan memunculkan konsekuensi-implikasi yang berlaku dalam ranah teoritis juga praksis. Namun dalam pembahasan ini akan difokuskan pada implikasi konseptual belaka karena penulis menganggap belum punya sukup data yang dapat menyokong analisis implikasi prakstis.
Adapaun implikasi dalam nalar Atheisme Dawkins yang paling signifikan adalah Richard Dawkins dengan segala penekanan dalam upaya eksplanasinya memang banyak menggunakan science sebagai fondasi dasarnya, dan hal itu tidak lain kembali menempatkan science sebagai oposisi agama. Science versi Dawkins menganggap bahwa agama merupakan musuh uatamanya karena memiliki kebernaran yang saling bertentangan.
Agama dan science pun kembali masuk dalam tahapan konflik dalam konsepsi relasional akannya sebagaimana dijelaskan Ian Barbou dalam bukunya juru bicara Tuhan yang menyatakan bahawa teori evolusi bertentangan dengan keyakinan beragama[11] padahal tidak selamanya agama dan science selalu bertentangan dan berada dalam konflik. Melihat dalam perkembangannya sebagaimana diterangkan Ian Barbour agama dan science sebenarnya dapat berintegrasi demi kebaikan peradaban manusia.
Kritik
Nalar atheisme Dawkins sekalipun terlihat cukup menyakinkan namun jelas juga mempunyai berbagai kekurangan . Salah satu kekurangan yang paling menonjol adalah saat ia menyatakan bahwa percaya kepada Tuhan sebagai sesuatu yang spekulatif, padahal dalam pengingkaran akan Tuhan pun Dawkins masih terjebak dalam tuduhannya sendiri itu.Dalam artian bahwa pada akhirnya banyak hal yang belum mampu dijelaskan ilmu pengetahuan secara mutlak. Sehingga memilih tidak percaya sebagai atheisme pada akhirnya malah mereduksi posibilitas lain yang sebenarnya masih beredar.
Kritisi lain yang dapat kita lakukan terhadap pemikiran nalar atheisme Dawkins adalah soal derivasi epistemologisnya yang masih begitu terpaku pada positivisme yang tidak mampu menampakan dan menjembatani realitas-realitas yang tidak terukur. Kesadaran manusia pun direduksi dengan pendasaran yang seperti itu, dimana kesadaran manusia hanya dilihan paradigma evolusionistik sebagai sebuah jaringan kedirian yang dibuat dari gerak-gerak tidak sadar molekul juga semprotan elektrokimiawi dalam otak.
Daftar Pustaka
Dawkins, Richard. 2006. The God Delusion.New South Walws: Bantam Press.
Dawkins, Richard. 2002. The Selfish Genes. Oxford University Press
Honderich, Ted (ed.).1990. The Oxford Companion to Philosophy.New York:oxford University press.
[1] Dalam acuannya pada filsafat barat yang tanpa bermaksud mereduksi tradisi pemikiran filsafat timur namun dalam kaitannya dalam pembahasan ini memang lebih relevan dalam tendensi fildafat barat.
[2] Cambridge companion hlm 21
[3] Kitab suci kaum nasrani, karena pada saat itu agama kristen merupakan agama yang paling dominan.
[4] Lihat Richard Dawkins, God Delusion hlm 22
[5] Kedua jalan ini diuraikan Dawkins sebagai dua bab terpisah dalam bukunya The God Delusion. Dimana jalan pertama adalah ekstrak dari bab kedua yang berjudul “Arguments for God’s existence” dan jalan kedua tidak lain adalah bab ketiga yang berjudul”Why there almost certainly is no God”
[6]Lihat Richard Dawkins, God Delusion(Bantam Press:2006) hlm
[7] Akibat keterbatasan ruang pembahasan, maka proposisi “spekulatif dan pada akhirnya mengada-ada” dianggap penulis sebagai kesimpulan umum akan semua rangkaian argumen dalam kategorisasi jalan kedua. Untuk lebih jelas lihat Richard Dawkin, God Delusion (Bantam Press:2006) hlm 75-105
[8] Lois Katsoff,pengantar filsafat hlm 208
[9] Harus diingat terminologi ilmiah dalam pemahaman Dawkins dibatasi dalam kerangka positistik dalam penekanan empiris,verivikasi juga reliable dan sudah pasti mereduksi kemungkinan lain di luar itu.
[10] Richard Dawkins,Selfish gene.s hlm 52

Apakah Sosialisme Anti Agama?

| Selasa, 21 Juni 2011 | 0 komentar |
Tidak !!!.

Sosialisme tidak anti agama. Agama adalah urusan setiap pribadi dan setiap orang bebas untuk menentukan kepercayaannya, termasuk untuk tidak percaya pada suatu kepercayaan sekalipun. Sejak kecil kita sudah diajarkan di sekolah, bahwa ‘agama’ adalah hubungan paling personal antara seorang individu dengan Tuhannya, karena itu tidak ada orang yang dapat mengatur, menentukan, dan mengendalikan hubungan itu.

Yang tidak diinginkan adalah, keadaan di mana manusia menjadi diperbudak oleh agamanya. Manusia menjadi lupa tentang hidupnya sebagai manusia di bumi, lupa akan permasalahan sosial yang melanda kehidupannya dan kehidupan sesamanya, dan hanya ingat untuk mengejar surga. Akibatnya seseorang menjadi pasifis, seseorang tidak peduli pada keadaan sosialnya, masyarakat menjadi semakin mudah dieksploitasi oleh orang-orang yang berkuasa secara politik dan ekonomi.


Karl Marx mengatakan bahwa agama adalah candu masyarakat, Marx juga mengatakan agama adalah keluhan para mahluk tertindas. Di sinilah hal ini berlaku. Agama menjadi semacam penghiburan bagi masyarakat yang tertindas oleh sistem, menjadi pelarian dan pelampiasan segala beban kehidupan yang dihasilkan dari penindasan secara ekonomi dan politik. Tetapi candu ini menjadi berbahaya ketika manusia semakin larut berputar-putar di dalamnya, manusia melupakan permasalahan sebenarnya bahwa masyarakat tertindas oleh sistem, dan cenderung terus menerus berkutat di permasalahan surga-neraka.

Dalam beberapa kasus, masyarakat bukan hanya larut dalam urusan surga-neraka, melainkan menjadi fanatik terhadap agamanya. Muncul kebencian terhadap kepercayaan lain, bahkan mewujudkan kebencian itu dalam tindakan nyata. Hal ini semakin menguntungkan pihak penguasa politik dan ekonomi. Fanatisme bahkan dapat digunakan dengan sengaja oleh penguasa untuk menciptakan konflik antar kepercayaan. Masyarakat tertindas semakin larut dalam urusan agama dan tidak lagi peduli pada kehidupan nyata dan permasalahan-permasalahan sosialnya, dan kemudian mereka menjadi terpecah belah berdasarkan agama. Semakin jauh dari usaha untuk memperbaiki kehidupan sosial, apalagi usaha untuk merombak sistem penindas.

Karena itu masyarakat harus dibangunkan dari tidur panjangnya. Setiap orang bebas beragama, tetapi setiap orang juga harus memperjuangkan kehidupan nyatanya yang benar-benar ada di depan mata saat ini: Memperjuangkan kehidupan yang lebih baik, membongkar sistem penindasan yang sekarang berkuasa.

Apakah Sosialisme Mempunyai Moralitas?
Tentu saja.
Agama adalah sumber standar moralitas yang utama, alat penentu kebaikan dan kebenaran pada masyarakat kita. Baik, benar, atau salah ditentukan dengan membandingkannya dengan apa yang dikatakan oleh agama, apa yang dikatakan oleh tokoh-tokoh agama, apa yang tertulis dalam buku-buku agama.

Tetapi moralitas agama tidak akan mungkin berlaku benar-benar universal pada kehidupan manusia karena ada berbagai macam agama dan tiap agama memiliki standar-standar moralitasnya masing-masing, yang walaupun masih ada titik temunya tetap akan terdapat perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Tidak mungkin dan tidak adil untuk menilai benar atau salah perbuatan seorang beragama A dengan standar moralitas agama B.

Lebih lagi, di masa sekarang, seringkali agama telah digunakan oleh pihak yang berkuasa sebagai tameng, sebagai alat pengekang, dan sebagai alat pemecah-belah untuk melemahkan perjuangan sosial kelas tertindas, membuat mereka terbuai mimpi indah surgawi setelah mati nanti. Orang yang melawan dan memberontak terhadap penguasa dikatakan tidak bermoral dan dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama yang mengajarkan manusia harus selalu bisa menerima keadaan, menerima takdir, dan menganggap kesulitan hidup sebagai cobaan dari Tuhan.
Moral dan tolak ukur kebaikan dan kebenaran telah ditentukan oleh penguasa. Apa-apa yang dapat membahayakan penguasa adalah tidak bermoral, jahat, dan salah; sementara apa yang mendukung dan memperkuat posisi penguasa adalah bermoral, baik, dan benar. Standar moral yang ‘gila’ seperti ini tidak dapat terus menerus digunakan jika manusia memang ingin melepaskan diri dari lingkaran setan penindasan dan eksploitasi.

Karena itu sosialisme-komunisme meletakkan standar moralnya bukan kepada agama, tetapi kepada kemanusiaan itu sendiri.
Adalah tidak bermoral untuk merampas hasil pekerjaan orang lain. Adalah tidak bermoral untuk mengeksploitasi nafsu konsumerisme orang lain, menindas pemikiran dan perjuangan, menggusur tempat hidup dan tempat mencari nafkah, membunuh orang lain. Adalah tidak bermoral untuk mendiskriminasi orang lain berdasarkan jenis kelamin, ras, dan agama. Adalah tidak bermoral untuk mempekerjakan buruh di bawah umur. Adalah tidak bermoral untuk menekan upah buruh seminim mungkin dan memecat mereka demi mencapai profit tertinggi. Adalah tidak bermoral untuk menempatkan PROFIT di atas KEMANUSIAAN. Dan lain-lain.

Itu adalah contoh-contoh moralitas dalam sosialisme. Kita mempunyai moral, yang tampaknya jauh lebih bermoral (bahkan bertolak belakang) dari standar moral para kapitalis.
Kaum kapitalis adalah pengguna standar ganda. Mereka menggunakan standar moral yang tinggi sekali – bahkan menggunakan standar moral agama – ketika menilai perbuatan manusia pada umumnya. Karena itu perbuatan menentang penguasa, ide untuk merombak dan memberontak dari keadaan hidup yang sulit dan melarat mereka anggap sebagai salah, tidak baik, dan tidak bermoral.

Tetapi sementara itu mereka akan menggunakan standar moral lain lagi ketika segala perbuatan-perbuatan tidak bermoral mereka mulai disinggung (penghisapan, penindasan, eksploitasi, dan berbagai macam hal yang dilakukan oleh kaum kapitalis terhadap kelas pekerja dan masyarakat melarat). Dalam membela tindakan tidak bermoral yang dilakukannya, kapitalis menggunakan dalih-dalih semacam “merampok atau dirampok”, “makan atau dimakan”, “hukum alam”, “yang kuat yang menang”, “hidup itu keras”, dan berbagai macam dalih dan alasan lainnya.
Tetapi kita – kaum sosialis – menjawab: “Bukankah akan lebih baik kalau manusia dapat hidup bersama-sama dalam kesetaraan? Mengolah alam ini bukan untuk profit segelintir orang, melainkan untuk pemenuhan keperluan dan kebutuhan bersama-sama? Mengambil dari tiap orang sesuai kemampuannya dan memberikan kepada setiap orang sesuai keperluannya?” Bukankah lebih baik kalau tidak perlu ada yang merampok dan dirampok? Bukankah lebih baik kalau dunia ini diabdikan bukan untuk profit, melainkan untuk kemanusiaan

Libido Ergo Sum

| | 0 komentar |

“Manfaat hidup yang terbesar adalah menggunakannya untuk sesuatu yang akan membuatnya berlangsung lebih lama.”
(William James)
Energi seksual (libido) tidak bisa diingkari, ditolak, atau ditekan sebagaimana mata air yang terus melimpah juga membutuhkan sungai untuk mengalirkannya. Sebagaimana energi bisa diubah dari bentuk yang satu ke yang lain, energi seksual pun bisa diubah ke bentuk-bentuk lain. Perubahan energi seksual menjadi aktivitas aktivitas yang lebih bernilai sering disebut sublimasi. Menurut teori psikoanalisis,
hasil-hasil yang dicapai kebudayaan manusia pun tak bisa lepas dari proses sublimasi karena ada norma dan moral yang membatasi manusia untuk bisa mengumbar energi seksualnya. Bagi kaum remaja dan mereka yang belum menikah, perlu kiranya melatih diri untuk melakukan sublimasi agar energi seksual yang sedang menggelora bisa tersalurkan dalam aktivitas-aktivitas yang bernilai.


Aktivitas Seni
Sesungguhnya setiap manusia terlahir sebagai seniman, bahkan manusia itu sendiri merupakan mahakarya (masterpiece) Sang Seniman Tertinggi. Persoalannya hanya bakat seni itu kurang dikenali dan ditumbuhkan dalam diri dengan alasan tidak berjiwa seni. Tubuhmu memiliki 200 tulang yang bentuknya berbeda-beda dan berfungsi secara menakjubkan. Mesin pompa tercanggih adalah jantung yang berdenyut nonstop 36 juta kali setahun dengan risiko kerusakan sangat kecil. Otak memiliki satu triliun sel, dengan kemampuan satu sel setara dengan satu PC. Jelas, tubuhmu sudah disiapkan: apakah mau menjadi seniman atau ilmuwan, terserah dirimu. Dengan potensi seni yang dimiliki setiap manusia, kau pun bisa melakukan sublimasi energi seksual ke dalam aktivitas-aktivitas seni. Cobalah pilih satu bidang seni, dan pusatkan perhatianmu untuk melatih dan menggumulinya: musik, drama, puisi, lukis, patung, dll. Seni berhubungan erat dengan perasaan terdalam maka dengan seni kau pun melatih diri untuk memiliki kehalusan dan kepekaan perasaan. Seni memberi kepuasan batin yang melampaui kepuasan yang didapat melalui seks maka dengan seni kau mampu mengendalikan dorongan seksual dan mendapat ganti yang tak kalah nikmat.
Aktivitas Fisik
Energi seksual lebih banyak bersifat psikis dan kimiawi maka melatih fisik dengan aktivitas-aktivitas lain seperti olahraga, tari, fitness, dll bisa menjadi sublimasi. Apalagi aktivitas fisik yang bersifat memenangkan atau menaklukkan sangat cocok sebagai bentuk sublimasi laki-laki karena serupa dengan karakter seksual laki-laki. Tari dan senam lebih pas dengan ritme seksual perempuan yang tidak meledak-ledak dan melibatkan seluruh tubuh. Dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur dan konsisten, bukan hanya tubuh yang sehat, tetapi kehidupan seksualmu pun lebih sehat dan terkontrol. Ingatlah, pasangan yang memiliki tingkat kepuasan seksual yang tinggi justru mereka yang mampu mengontrol dan mengendalikan nafsunya.
Memiliki Hobi
Menyedihkan sekali kalau orang tidak memiliki hobi atau kesukaan tertentu karena hobi adalah kesempatan untuk melakukan aktivitas tanpa terpaksa, bahkan tanpa target dan tujuan yang pasti. Energi seksual pun akan tersalur melalui hobi karena ketika orang sedang asyik dengan hobinya, ia bisa ekstase dalam arti lupa akan hal-hal yang lain, termasuk dorongan seksualnya. Ketika kau sedang melakukan hobi, lakukan dengan sepenuh hati tanpa menghitung untung dan rugi karena kau sedang memuaskan dorongan ego secara positif. Jika dibandingkan dengan aktivitas seksual, melakukan hobi serupa dengan onani (memuaskan dorongan seksual dengan diri sendiri), namun dalam tingkat yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, penting bagi setiap remaja dan pemuda untuk punya hobi tertentu agar libido bisa dialihkan atau dipuaskan ketika sedang asyik dengan hobinya.
Aktivitas intelektual
Bentuk sublimasi itu secara tidak sadar sudah kaulakukan ketika sedang tekun belajar di sekolah, hanya saja kegiatan belajar yang dilakukan secara terpaksa kurang efektif sebagai jalan sublimasi. Mempelajari sesuatu karena didorong rasa ingin tahu dan merasakan keasyikan dan kepuasan akan menjadi sublimasi yang efektif. Oleh sebab itu, situasi dan suasana belajar mengajar yang berlangsung di kelas yang mengesankan, menyenangkan sekaligus menantang juga bisa menjadi bentuk sublimasi yang baik. Aktivitas intelektual yang paling efektif untuk sublimasi, adalah membaca apa pun yang kau baca asalkan bukan bacaan yang mengekplotasi seks atau pornografi. Membaca membuat sel-sel otak aktif dan berkembang sehingga libido tak menguasai. Andai saja minat baca para muda cukup tinggi, buku-buku bisa didapat dengan mudah, maka persoalan-persoalan yang menyangkut kehidupan seksual mereka akan mendapat penyaluran yang efektif.
Aktivitas sosial
Mengalihkan perhatian pada kebutuhan orang lain atau kebutuhan bersama bisa menjadi sublimasi yang baik. Seks selalu egois, artinya terpusat pada kepuasan diri sendiri walaupun melibatkan orang lain. Seks tidak pernah untuk memuaskan orang lain, sebaliknya dengan aktivitas sosial kita melatih diri untuk membalikkan arah, yakni tertuju pada kepentingan orang lain. Kepuasan yang didapat melalui aktivitas sosial tingkatannya lebih tinggi daripada kepuasan yang didapat melalui dorongan seksual. Menjadi aktivis untuk kepentingan masyarakat banyak, atau gerakan kepedulian terhadap persoalan-persoalan masyarakat, akan menjadi sublimasi yang sangat bermanfaat. Terlibat dalam organisasi atau kepanitiaan juga bisa menjadi pengubah libido yang baik.
Aktivitas Spiritual
Manusia bukan sekadar makhluk yang berdimensi fisik dan psikis, namun juga spiritual. Artinya, di atas segala potensi yang dimilikinya, ada kekuatan tertinggi dalam dirinya, yakni ROH. Keberadaan Roh (Spirit) itu mesti terus-menerus disadari dan ditumbuhkan sehingga mampu menguasai pikiran dan perilaku kita. Akhirnya, tubuh kita bisa menyatu dengan roh. Aktivitas spiritual seperti berdoa, meditasi, refleksi atas keberadaan kita di alam semesta, di hadapan Sang Pencipta, akan melampaui desakan-desakan tubuh sekuat apa pun.
Latihan:
1. Apakah kau memiliki bentuk-bentuk sublimasi seperti di atas? Sekarang sadari bahwa hal itu akan membantu berdamai dengan libido.
2. Jika selama ini kau tidak memiliki bentuk sublimasi, cobalah pilih bentuk apa yang akan kaulakukan.
3. Sadari (jangan anggap remeh) bahwa dorongan seksual yang ada dalam dirimu begitu kuat, seperti mata air yang terus melimpahkan air. Salurkan melalui sublimasi.
Mantra:
Aku mampu menyalurkan
Dorongan libidoku sekuat apa pun
Libido bukan musuh atau ancaman
Melainkan kekuatan yang harus diarahkan
Dan aku pasti bisa
(Smart Sex)

Fallacy Devision

| | 0 komentar |

Kebalikan dari fallacy of compositionfallacy of division adalah kesesatan ketika kamu mengira bahwa setidaknya ada satu komponen yang bersifat seperti itu.
Bentuk
X terdiri dari x1, x2, … xn X bersifat p ∴ x1, x2, … xn setidaknya ada satu yang bersifat p.
Paduan suara itu bagus sekali. Pasti ada setidaknya satu orang yang ahli.
Johan tinggal di rumah yang besar sekali. Enak ya. Kamarnya pasti luas.
Mungkin kamu agak sukar membedakan antara kedua fallacy di atas dengan kesesatan generalisasi. Perbedaan utamanya adalah, kesesatan generalisasi menekankan pada masalah populasi, sedangkan kedua kesesatan di atas menekankan pada komponen yang menyusun sesuatu.

Fallacy of Compisition

| | 0 komentar |


Heri
Siapa aja yang akan main nanti?
Yoyok
Ada Boni yang pintar main bass. Jono yang pintar main keyboard, ada juga Hendri yang pintar main drum. Semuanya orang-orang pintar dan paling jago di sekolah. Pasti akan jadi band yang hebat!
Betulkah? Seringkali kita melakukan kesalahan semacam itu. Kesalahan ini disebutfallacy of composition, yaitu ketika kita mengira bahwa sifat keseluruhan adalah seperti sifat bagian-bagiannya.
Bentuk
X terdiri dari x1, x2, … xn x1, x2, … xn sebagian besar atau seluruhnya bersifat p ∴ X pasti bersifat p
Kalau kamu kurang setuju dalam contoh di atas, pertimbangkan contoh berikut:
Susu rasanya enak. Coklat rasanya enak. Ayam bakar rasanya enak juga. Mangga juga enak. Sambal terasi enak juga, lho. Mari kita buat masakan super enak dengan mencampur susu, coklat, ayam bakar, mangga, dan sambal menjadi satu. Pasti uenak!

Fallacies - Akibat Keterbatasan Bahasa

| | 0 komentar |
Setiap kalimat yang kita ucapkan adalah berasal dari pikiran kita. Tetapi karena keterbatasan bahasa yang kita gunakan, juga kesulitan kita dalam mengutarakan sesuatu, maka seringkali yang orang lain mengerti berbeda dengan yang kita maksudkan.

Ekuivokasi




Kesesatan ekuivokasi terjadi ketika kamu menggunakan kata yang sama untuk dua maksud yang berbeda.
Kemarin ketika hari belum malam1 saya bermain malam2.
“Malam” yang pertama artinya malam hari, sedangkan “malam” yang kedua artinya mainan serupa lilin yang bisa dibentuk macam-macam.
Biasanya ekuivokasi yang dikatakan oleh dua orang dapat menjadi perdebatan konyol yang tak dapat diselesaikan.
Bomi
Agar sukses, kita harus menjadi orang yang bermimpi.
Mila
Mana bisa, kalau bermimpi artinya tidak berbuat apa-apa.
Bomi
Justru dengan bermimpi, kita akan terpacu untuk mencapai mimpi itu, sehingga kita bekerja keras.
Mila
Kalau orang lagi mimpi, sudah jelas dia nggak bisa ngapa-ngapain, ya jelas dia nggak mungkin kerja keras, goblok!
Ini perdebatan yang bodoh. Bomi dan Mila berdebat tentang “mimpi”, sementara “mimpi” yang dimaksud Bomi dengan “mimpi” yang dimaksud Mila berbeda. Yang dimaksudkan Bomi adalah cita-cita, sementara yang dimaksudkan Mila adalah mimpi ketika tidur.
Perdebatan semacam ini sering terjadi. Karena itu sebelum perdebatan dimulai, sepakatilah dahulu definisi-definisi istilah yang akan dipakai.

Amfiboli
Berbeda dengan ekuivokasi, kalau kamu mengatakan sesuatu yang bisa ditafsirkan berbeda-beda (ambigu), itu akan bisa memunculkan kesimpulan yang jauh dari yang kamu harapkan. Ini disebut kesesatan amfiboli.
Bentuk
Si x mengatakan P Si y mengira P adalah P’ ∴ P’ dan bukan P
Marilah kita menghapuskan semua peraturan sekolah yang tidak berguna itu.
Apa yang akan dihapuskan? Semua peraturan sekolah? Atau hanya peraturan sekolah yang tidak berguna? Atau peraturan dari sebuah sekolah yang tidak berguna?
Suatu ketika, Croesus, raja Lydia, ingin menaklukkan Cyrus, raja Persia. Ia berkonsultasi dengan seorang peramal terkenal di Delphi. Sang peramal mengatakan, “Kalau Croesus melawan Cyrus, sebuah tentara besar akan dihancurkan!” Setelah ia melawan Cyrus, ternyata tentaranya hancur semua. Ia telah menarik kesimpulan yang salah.