Powered By Blogger

Profile

Foto saya
Just the notes to make my mind development as a journal.

Ad Novitatem

| Selasa, 21 Juni 2011 | 0 komentar |

Orang seringkali menganggap bahwa yang paling baru adalah yang paling benar. Ini disebut argumentum ad novitatem.
Bentuk
P baru ∴ P benar/paling baik
Contoh:
Komputer ini dikeluarkan tahun 2007. Yang itu 2003. Pasti yang ini lebih baik.
Seringkali ini diwujudkan dengan sikap mengikuti tren yang paling baru, tanpa menguji apakah itu benar/tidak, dan tanpa menguji apakah itu sesuai dengan dirinya atau tidak.
Berlawanan dengan argumentum ad novitatem adalah argumentum ad antiquitatem.

Ad Populum

| | 0 komentar |

Ini adalah argumen yang didasarkan pada banyaknya orang yang mempercayai sesuatu. Bentuk penalarannya seperti ini:
Bentuk
Banyak orang mempercayai P ∴ P benar
Contoh:
“Banyak yang mempercayai bahwa free-sex adalah hal yang baik, bahkan banyak yang melakukannya. Berarti free-sex memang baik.”
“Hampir semua orang di sekolah bilang kalau mereka sudah jadian. Berarti mereka memang sudah jadian.”
“Banyak orang yang percaya Tuhan tidak ada. Berarti benar kan, Tuhan tidak ada?”
Setiap kali kamu mendasarkan argumen pada banyaknya orang yang menganutnya, ingatlah bahwa pernah ada suatu masa di mana semua orang mempercayai bahwa Bumi ini datar, dan hari ini kamu menertawakan kepercayaan mereka.
Perhatikan juga contoh berikut, yang jelas merupakan sesuatu yang absurd:
“Hampir semua orang mempercayai bahwa matahari tidak ada. Berarti matahari memang tidak ada.”
Hal yang dipercayai banyak orang tidak tentu benar.
The broad mass of a nation...will more easily fall victim to a big lie than to a small one.
-- Adolf Hitler (1889 - 1945)

Ad Verecundiam

| | 0 komentar |

Kalau dalam ad hominem argumen didasarkan pada perasaan kita terhadap seseorang, maka pada ad verecundiam kita berargumen berdasarkan otoritas seseorang atau sesuatu hal.
Bentuk penalarannya
x menyebutkan P x adalah sesuatu/seseorang yang memiliki otoritas dalam bidang itu. ∴ P benar
Contoh:
“Menurut para ahli, air heksagonal baik untuk kesehatan. Berarti pasti baik.”
Ingatlah bahwa fallacy tidak mutlak harus dihindari. Karena kita tidak tahu segala sesuatu, kita harus dengan rendah hati percaya pada otoritas orang lain, dengan tetap menyadari bahwa ia mungkin salah. Karena kalau kamu tidak percaya pada dokter gigi, mungkin gigimu akan ompong sebelum usia 40 tahun. Tetapi sebaliknya, kepercayaan bahwa dokter gigi tidak mungkin salah, dapat mencelakakan kamu suatu hari nanti. Jadi, tetaplah percaya dengan otoritas sesuatu sambil tetap menyadari bahwa kemungkinan salah tetap ada.

Ad Hominem

| | 0 komentar |

“Apakah karena saya Islam, maka Islam itu benar, atau apakah karena Islam itu benar, maka saya menjadi Islam?”
-- Pdt. Stephen Tong
Kesesatan ad hominem didasarkan pada emosi tertentu yang kita miliki terhadap seseorang. Misalnya, karena kita benci terhadap seseorang, maka semua yang ia katakan kita anggap salah. Sedangkan ada orang lain yang kita kagumi, maka semua yang ia katakan kita anggap benar. Padahal mungkin yang benar justru kata-kata orang yang kita benci itu.
Bentuk penalarannya kira-kira seperti ini
Si x mengatakan P Saya punya emosi positif terhadap x ∴ P benar
atau
Si x mengatakan P Saya punya emosi negatif terhadap x ∴ P salah
“Kok kamu yakin pendetamu benar?”
“Habisnya dia orangnya baik banget sih.”
Seorang musuh dalam beberapa hal lebih baik daripada seorang sahabat. Karena dengan maksud membuat kita sakit hati, mereka mengatakan hal-hal yang benar tentang kita. Sementara sahabat, seringkali dengan maksud menyenangkan kita, mereka mengatakan hal-hal yang tidak benar tentang kita.
Versi lain dari ad hominem adalah ad hominem tu quoque, atau ad hominem “kamu juga”. Kadang-kadang disertai dengan sebutan “munafik”.
Bentuknya
Si x mengatakan P Kelakuan x tidak cocok dengan P ∴ P salah
Tobi adalah seorang perokok berat. Ketika melihat anaknya merokok, Tobi menasehati anaknya, “Nak, kamu jangan merokok ya. Merokok tidak baik untuk kesehatan.” Maka anaknya menjawab, “Nggak usah ngomong deh, Pa. Papa sendiri ngerokok!”
Kalau seorang pembunuh mengatakan bahwa membunuh itu tidak baik, apakah berarti ia salah? Kecenderungan kita adalah tidak mau mendengarkan orang yang perbuatannya tidak sesuai dengan yang dikatakan.
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. -- Matius 23:2-3 ITB
Bisa juga dalam penalaran ad hominem, x adalah dirimu sendiri. Jadi:
Bentuk
Saya menganut pandangan P ∴ P benar
Atau, kamu mempertanyakan motivasi seseorang dalam suatu hal, karena kondisi orang itu yang diuntungkan/dirugikan. Ini disebut ad hominem circumstantial. Kira-kira seperti ini:
Bentuk
Si x menyatakan P Si y mengatakan bahwa x menyatakan P karena x punya kepentingan tertentu dengan P ∴ P salah
Contoh:
Setiap kali ulangan pelajaran Pak Boni, Enjel, murid tercantik di kelas, mendapat nilai 100. Padahal teman-temannya tidak ada yang mendapat nilai di atas 70. Maka seorang teman Enjel berkomentar, “Jelas saja Pak Boni memberi Enjel 100, Enjel kan cantik.”
“Terang aja dia bilang agama Kristen benar. Dia sendiri Kristen.”
”O, jadi agama Kristen itu tidak benar.”

Palindrom: Matematika dan Keadilan …

| Senin, 20 Juni 2011 | 0 komentar |

*****Pengantar yang semoga penting *****
Masih ingat dengan Bapak Pembangunan Nasional kita? Maaf, kalau saya dianggap membawa-bawa dan membicarakan orang yang sudah meninggal. Seperti kita ketahui kalau Soeharto, mantan presiden RI, telah meninggal pada (kira-kira) jam 01.10 (siang) tanggal 27 Januari 2008. Kata teman saya sangat banyak blogger yang membahas tentang Soeharto begitu Soeharto meninggal dan bahkan ada blogger yang membahas waktu kematian Soeharto.
Begini pendapat saya tentang waktu kematian Soeharto:
Jam meninggalnya Soeharto saya anggap benar-benar pukul 13.10 yang akan saya tulis dengan 01.10 (PM). Keistimewaan dari 01.10 adalah bilangan jam tersebut akan tetap dibaca sama walaupun orientasi membaca kita diubah dari kiri ke kanan maupun dari kanan ke kiri. Bentuk seperti ini (memiliki hasil yang sama walaupun arah membaca diubah) disebut palindrom, dan tentang palindrom kata sudah pernah ditulis oleh Bapak Yari NK di sini. Palindrom bagi saya merupakan suatu perwujudan dari kesimetrisan karena jika kita “melipat” bentuk palindrom maka kita bisa menangkupkan dua unsur yang sama dari kedua belah pihak (sisi kanan dan kiri). Contoh 12344321, setelah kita tangkupkan maka 1 di bagian kiri akan bertemu dengan 1 di bagian kanan … dan begitu juga seterusnya. Jika banyak unsur dari palindrom itu ganjil, maka kita anggap unsur yang di tengah sebagai sumbu lipat. Dan kesimetrisan itu sendiri bagi saya melambangkan keadilan (secara sempit).
Nach … jadi 01.10 yang merupakan bentuk palindrom tersebut bagi saya melambangkan suatu keadilan. Lihatlah … ternyata waktu meninggalnya Soeharto melambangkan suatu keadilan, yang artinya (menurut saya) Soeharto tetap harus diadili atas segala apa yang telah beliau lakukan. Tentu saja beliau telah berjasa besar pada bangsa ini, tetapi bukan berarti kesalahan beliau lantas dilupakan kan?
Lho, kok jadi membahas Soeharto? Wah maaf ternyata saya jadi ngelantur begini, padahal maksud tulisan saya ini sebenarnya kan ingin berbagi informasi tentang palindrom bilangan hehehe …

*****Palindrom bilangan *****
Palindrom bilangan di sini tidak hanya sebatas menuliskan bilangan sehingga membentuk suatu palindrom, tetapi bagaimana melakukan operasi bilangan-bilangan sehingga membentuk bilangan palindrom. Bilangan yang paling mudah untuk digunakan membentuk palindrom adalah pasangan bilangan yang semua angkanya adalah 1.
Contoh:
  • 11 x 11 = 121
  • 111 x 111 = 12321
  • 111111 x 111111 = 12345654321
Lalu kenapa 1111111111111 x 1111111111111 tidak bisa menghasilkan bilangan palindrom, tetapi justru menghasilkan 1234567901234320987654321?
Ternyata tidak semua pasangan bilangan yang tersusun dari angka 1 bisa menghasilkan bilangan palindrom. Syarat dari pasangan bilangan dengan semua angka 1 bisa membentuk bilangan palindrom adalah jika banyaknya digit angka dari bilangan tersebut kurang dari 11. Kenapa?
Pasangan bilangan yang tersusun dari angka 1 (dan banyak angka kurang dari 11) bisa membentuk bilangan palindrom karena jika kita melakukan algoritma perkalian secara bersusun maka semua penjumlahan bilangan-bilangannya tidak akan melewati 10 sehingga hal tersebut tidak akan merubah pola yang ada (pengecualian untuk pasangan 1111111111). Sedangkan untuk pasangan bilangan yang memiliki banyak angka lebih dari 10 maka pada beberapa bagian tertentu terdapat penjumlahan digit yang hasilnya melebihi 10 sehingga hal tersebut akan merusak pola yang ada. Untuk lebih jelasnya silakan dilihat gambar berikut berikut:



Semoga gambar di atas bisa memperjelas kenapa hanya ada 10 pasangan bilangan yang tersusun dari angka 1 yang bisa menghasilkan bilangan palindrom.
Tidak hanya pasangan bilangan kembar saja yang bisa menghasilkan bilangan palindrom. Berikut adalah contoh bilangan palindrom yang terbentuk dari operasi bilangan yang tidak kembar:
  • 1 x 11 x 111 x 1111 = 1356531
  • 5 x 7 x 11 x 13 = 5005
  • 111111 x 111111 = 12345654321
Sepertinya tulisan ini sudah lumayan panjang tetapi sebagai penutup tulisan ini saya ingin menceritakan pendapat saya tentang tanggal meninggalnya Soeharto (tadi jam meninggal kan sudah saya jadikan pembuka). Soeharto meninggal pada tanggal 27 Januari 2008 yang bisa kita tuliskan dengan 27012008. Mari kita bagi 27012008 menjadi dua bagian yang sama banyak angka yang sama, yaitu 44 sehingga kita memperoleh 2701 vs 2008. Selanjutnya mari kita jumlahkan angka-angka pada kedua belah pihak, 2+7+0+1=10 dan 2+0+0+8=10. Eh ternyata kedua bagian memberikan hasil penjumlahan angka yang sama, yaitu 10. Kiri adalah 10 dan kanan adalah 10 … hmmmm sepertinya hal ini juga bisa menggambarkan konsep keadilan.
Jadi apakah hal tersebut menunjukkan kalau Soeharto harus diadili atas segala kesalahan yang sudah diperbuatnya atau justru sebaliknya, hal tersebut menunjukkan kalau semua jasa Soeharto telah menyeimbangkan segala kesalahannya? Tetapi kalau saya sich lebih suka menganut hukum aksi-reaksi dimana di balik setiap perbuatan pasti ada konsekuensi yang harus ditanggung.
Eh maaf kalau tulisan ini terlalu panjang hehehe

Kelemahan Lintas Agama

| Minggu, 19 Juni 2011 | 0 komentar |


Kenapa saya tidak ikut-ikutan kegiatan lintas agama? Karena lintas agama menempatkan manusia di dalam kotak-kotak. Jadi, ada kotak islam, kotak kristen protestan, kotak kristen katolik, kotak hindu, kotak buddha dan kotak konghucu. Semuanya main kotak. Kalau anda tidak kotak, maka anda tidak bisa ikut-ikutan kegiatan lintas agama. Saya bukan kotak, saya manusia biasa, makanya saya tidak bisa dan tidak mau ikut-ikutan kegiatan lintas agama.

Jadi, secara umum, orang lintas agama diharapkan agar menjadi orang beragama yg baik, yg bisa hidup rukun dan damai dengan orang beragama lainnya. Dan itu merupakan asumsi yg memuakkan bagi saya. Kenapa? Karena tanpa beragama pun orang bisa hidup rukun dan damai dengan tetangga. Tidak saling mengganggu. Tidak membunyikan TOA masjid sejadi-jadinya dengan alasan untuk menyenangkan hati Allah SWT. Kita bisa menjadi manusia luhur dan bermartabat tanpa ikut-ikutan masuk kotak agama.

Pada pihak lain, saya juga bisa berargumen, bahwa untuk apa ikut-ikutan kegiatan lintas agama kalau kita bisa langsung mencapai tujuan. Tujuan akhir dari lintas agama adalah puncak dari spiritualitas, yaitu agnostisme dan ateisme. Kalau sudah agnostik dan ateis, maka kita tidak perlu lagi pakai agama. Nah, kalau akhirnya kita tidak akan pakai agama, kenapa sekarang harus galang-gulung dengan orang beragama? Kenapa harus masuk kotak sebagai orang beragama juga? Kenapa harus memperlihatkan diri sebagai orang yg cinta damai dengan label agama? Kalau semuanya bisa dilakukan tanpa agama, ya sudah. Langsung saja tidak pakai agama. Langsung saja jadi orang agnostik dan ateis. Gitu aja kok refot?

Tokoh lintas agama Indonesia yg paling terkenal adalah Gus Dur. Dan saya cukup maklum kenapa Gus Dur ikut-ikutan begituan. Dia ini kan guru, dia mau mengajarkan kepada banyak umat islam bahwa semua agama itu sama. Sama baiknya dan sama jeleknya. Kurang lebih seperti itu. Dan jangan salah kaprah dengan berpikir bahwa Gus Dur tidak pernah bilang agama jelek. Secara implisit, Gus Dur bilang islam itu jelek. Kalau islam itu bagus, maka tidak perlu direformasi. Tetapi Gus Dur ingin mereformasi islam, makanya dia sering guyon tentang Islam, dan juga tentang agama-agama lain. Gus Dur mau orang mengerti bahwa semua agama itu ada baiknya dan ada jeleknya.

Tokoh kedua adalah teman kita Anand Krishna. Berlainan dengan Gus Dur, teman saya kenal dengan Anand Krishna langsung. Dia datang ke rumahnya. Dan benar, disana memang banyak patung berhala. Ada berhala hindu, ada berhala buddha, dan ada juga berhala kristen. Ada patung Siwa, ada patung Buddha, dan ada patung Yesus. Tetapi tentu saja tidak disembah. Mereka cuma menjadi penghias ruangan saja. Orang islam yg berpikir patung-patung itu disembah adalah orang yg sudah dicuci otak. Bersih mengkilap. Mereka tidak tahu bahwa berhala itu cuma menjadi penghias ruangan. Tidak ada berhala yg disembah. Semuanya benda mati. Tetapi Anand Krishna punya itu. Banyak di rumahnya. 

Apakah Anand Krishna beragama? Setahu saya dia penganut buddhisme. Tetapi Anand Krishna sudah jauh lebih dari sekedar penganut buddhisme. Menurut saya dia sudah menjadi orang universal. Agnostik. Agnostik artinya tahu bahwa segalanya itu cuma simbol saja. Merujuk kepada bermacam jenis kesadaran di dalam pikiran manusia. Ada kesadaran jenius, dan itu disimbolkan oleh Ganesha. Ada kesadaran feminin, dan itu disimbolkan oleh Durga. Ada kesadaran egaliter, dan itu disimbolkan oleh Yesus. Dan ada kesadaran welas asih yg disimbolkan oleh Dewi Kuan Im. Semuanya simbol saja, ada di dalam pikiran kita sendiri. Dan tidak perlu disembah.

Ada pula Allah. Allah ini simbol dari kesadaran kemaruk. Merasa benar sendiri. Orang yg ingin benar sendiri dan masuk ke bawah tempurung saya sarankan menyembah Allah. Dalam bahasa inggris, Allah adalah God. Dan itu bukan Tuhan. Dalam bahasa inggris, Tuhan disebut the Lord. The Lord ini bisa apa saja. Bisa perempuan juga. Bisa lesbian juga. Bisa homo juga. Tuhan bisa berbentuk apa pun. Tetapi kalau sudah disimbolkan sebagai Allah atau God, maka kemungkinan besar itu adalah kesadaran yg kemaruk. Yg suka mengancam as well as mengumpulkan amal ibadah manusia.

Ada pula Musdah Mulia yg, jujur aja, saya selalu anggap sebagai seorang lesbian, walaupun dia menikah. Paling tidak saya merasa dia seorang biseksual. Dan tentu saja itu tidak apa sebab yg bisex juga banyak. Kemungkinan saya juga bisex. Musdah Mulia memperoleh banyak penghargaan dari luar negeri. Tetapi di dalam negeri dianggap sebagai musuh dalam selimut. Pedahal, mungkin, lebih enak dianggap sebagai teman dalam selimut. I have nothing against her. Tetapi dia tetap islam. Tetap di dalam kotak.

So, untuk apa menjadi orang lintas agama kalau ternyata tetap hidup di dalam kotak-kotak? Tetapi itu tentu saja tidak dilarang, kalau mau. Gus Dur menjadi tokoh lintas agama, dan tetap hidup di dalam kotak islam, walaupun saya merasa Gus Dur itu bukan islam. Dia orang universal. Gus Dur tetap islam untuk menjadi tokoh pembaharu bagi dunia islam yg masih terbelakang. Anand Krishna menurut saya sudah tidak pakai agama, tetapi dia masih memegang semua agama dengan harapan agar orang bisa menerima semua agama juga dan akhirnya menjadi orang universal. Menurut saya itulah motivasinya. Kalau Musdah Mulia, dia ingin memperbaharui islam dari dalam. So, ketiga orang ini semuanya ingin membawa perubahan. Dan mereka ingin membawa perubahan dari dalam. Dari dalam kotak. Manusia dimasukkan ke dalam kotaknya masing-masing. Setelah itu diberikan kuliah agar bisa hidup rukun dan damai dengan manusia yg hidup di kotak-kotak lainnya.

Saya tidak begitu. Saya bilang, kalau kita bisa buang agama dari sekarang, ya buang saja. Kita tidak pakai lagi kotak. Kita bukan manusia kotak. Kita manusia biasa saja. Kita lahir tanpa agama, dan kita akan mati tanpa agama pula. And that's the reason, kenapa saya tidak ikut-ikutan kegiatan lintas agama. Saya tidak mau masuk kotak. Emangnya gue apaan?

Ada pula Franz Magnis Suseno yg diharapkan mewakili kristen katolik. So, di dalam acara-acara lintas agama, orang-orang ini akan duduk berderet-deret, dan bergantian pidato, biasanya tentang kerukunan umat beragama. Bisa dibayangin gak? Gus Dur maju lalu pidato tentang pentingnya kecilin suara TOA. Lalu Anand Krishna bicara tentang berbagai nama tuhan. Lalu Musdah Mulia bicara tentang pentingnya merukunkan diri dengan lesbian beragama islam. Lalu Franz Magnis Suseno berbicara tentang perlunya orang kristen menyisihkan sebagian duit untuk dibelikan indomie, yg akan dibagikan kepada orang islam tanpa mengharapkan pamrih apapun, walaupun akhirnya dituduh melakukan kristenisasi. Kurang lebih begitulah suasananya. Dan saya tidak suka itu.

Kalaupun saya bicara, saya tidak akan berbicara tentang agama. Dari awal saya bilang saya tidak pakai agama. Saya orang sekuler. Saya bilang semua agama itu buatan orang, tidak ada Jibril yg datang dari atas langit bawa ayat. Kalau orang mau percaya itu tentu saja boleh. Kita tidak dilarang percaya Jibril datang bawa ayat atau pun percaya Spiderman akan menyelamatkan manusia. Walaupun ada bedanya juga. Jibril bawa ayat merupakan bagian dari agama, sedangkan Spiderman menyelamatkan umat manusia bukan bagian dari agama. Pedahal secara essensial keduanya sama persis. Sama-sama kisah buatan manusia. Fiksi.

Kalau saya bilang bahwa semua agama buatan manusia, akankah saya diterima berbicara di perhelatan lintas agama? Menurut saya tidak. Lintas agama di Indonesia masih dalam tahap pengkotakan. Semua manusia harus masuk kotak. Ada kotak islam, kotak kristen, kotak hindu, kotak buddha, kotak konghucu. Sangat disayangkan, kotak agnostik dan kotak ateis tidak ada. Agnostik dan ateis tidak dianggap. Pedahal orang spiritual tingkat tinggi adalah yg telah mencapai agnostisme dan ateisme. Yg masih berada di dalam kotak agama adalah orang spiritual kelas rendah. So, bagaimana mungkin saya ikut-ikutan kegiatan lintas agama? Semua orang harus masuk kotak seperti anak TK. Berpura-pura jadi orang baik. Saling menasehati untuk rukun. Pedahal tanpa agama kita semua sudah bisa rukun. Kita bisa berbagi dengan satu sama lain tanpa bawa agama. Pakai agama maupun tidak, semua manusia tetap manusia. Manusia biasa saja.

Kelemahan lain dari lintas agama adalah tumpulnya sikap kritis. Memang lintas agama berusaha untuk reformasi agama, tetapi dari dalam. Orang beragama lain diharapkan untuk tidak mengkritik. Islam tidak bisa mengkritik kristen. Kristen tidak bisa mengkritik islam. Hindu tidak bisa mengkritik buddha. Buddha tidak bisa mengkritik konghucu. Pedahal sikap kritis itu diperlukan. Setiap orang seharusnya bisa mengkritik setiap agama yg ada. Agama itu barang jualan. Bebas dilepas untuk dibeli di pasar. Karena itu barang jualan, maka setiap calon pembeli berhak untuk menilai. Kalaupun kita tidak jadi beli tidak apa-apa. Tetapi kita tidak bisa dilarang untuk bilang bahwa sebagai barang jualan, islam itu jelek. Sebagai barang jualan, kristen itu jelek. Hindu itu jelek. Buddha itu jelek. Tetapi sebagai aktivis lintas agama, orang-orang yg masuk kotak itu diharapkan untuk tutup mulut tentang barang dagangan tetangganya. Mereka cuma diharapkan untuk bersikap kritis terhadap barang dagangannya sendiri. Itu kan lucu.
Doa Lintas Agama untuk Almarhum Gus Dur


Lagipula, bisa saja ada orang lintas agama yg menyerukan kerukunan antar umat beragama, tetapi di belakang layar tetap saja bilang bahwa Al Quran merupakan kitab yg paling sempurna. Dia menyohorkan Al Quran sebagai pengganti Taurat, Zabur dan Injil yg menurutnya sudah out of date. Yg paling up to date adalah Al Quran. Memang dia bukan teroris, tetapi dia tetap saja jualan. Kerukunan antar umat beragama merupakan bagian dari jualan dia. Dia mau jualan islam yg damai. Dan itu tentu saja tidak dilarang. Tidak haram. But it's not my taste. Bukan selera saya. Saya juga menyerukan kerukunan antar umat beragama, tetapi saya lebih menyerukan ditinggalkannya agama. Agama-agama itu menyesatkan, tidak mau mengakui bahwa manusia bisa hidup tanpa agama. Saya menyerukan ditinggalkannya agama. Buang saja. Kita bisa menjadi manusia paska modern yg tercerahkan tanpa perlu masuk agama. Tanpa perlu masuk kotak. Tanpa perlu menyerukan kerukunan ini dan itu, dan pada saat yg sama membanggakan agamanya sendiri. Kita tidak perlu itu. Kita bukan orang munafik.





Etika Beragama

| Senin, 13 Juni 2011 | 0 komentar |


Ketika memilih judul tersebut, saya teringat oleh suatu ungkapan bahwa “Untuk menjalani hidup, tak dibutuhkan pikiran yang pandai, akan tetapi pikiran yang mengerti”. Begitu pula dalam beragama, kita tak cukup hanya mengetahui ajaran-ajaran Agama saja, namun hakikat keberagamaan itu sendiri yang harus terus dicari dan dipahami. Sehingga Agamawan tak terjebak pada pengertian-pengertian beragama yang terkadang terdistorsi oleh setiap orang yang memahaminya.

Agama
--------
Agama adalah suatu keyakinan yang memiliki postulat masing-masing, yang berupa dogma-dogma yang harus dipatuhi oleh setiap pemeluknya, postulat tersebut merupakan identitas Agama itu sendiri yang tak bisa diubah atau dikritisi, karena hal itu sudah merupakan identitas yang apabila diubah akan mengubah Agama itu sendiri. (Alferd: 2009, Hal: 7)

Agama mengandung nilai-nilai universal yang bersifat kekal, tak berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Hal ini bisa juga disebut dengan Hakikat keagamaan. Namun dalam prakteknya Agama selalu berproses dan elastis. Karena Agama dalam prakteknya tidak sama dengan hakikat keagamaan itu sendiri.
Oleh karena itu kita harus bisa memilah dan membuat diferensiasi antara Agama yang bersifat Universal (hakikat keberagamaan) dan Agama yang bersifat Parsial (praktek beragama).

Agama dalam aspek Universal
----------------------------------
Dalam aspek universal, istilah agama dipahami sebagai nilai-nilai luhur yang mengajarkan kebaikan. Setiap agama memiliki nilai-nilai luhur yang menjadi landasan praktek keberagamaannya. Landasan tersebutlah yang dipegang teguh oleh Agamawan, dan masing-masing Agamawan memiliki pemahaman yang berbeda tentang nilai itu, tingkat pemahaman tentang nilai-nilai luhur tersebutlah yang menjadi tolak ukur spiritual keberagamaan masing-masing Agamawan.

Agama dalam Aspek Parsial
--------------------------------
Dalam aspek parsial, istilah agama dipahami sebagai praktek keberagamaan sebagai abstraksi dari pemahaman dari pengertian agama secara Universal, sehingga dalam aplikasinya Agama dipahami dari sisi subjek dan objek dalam proses prehensi tentang agama itu sendiri (Alferd: 2009, Hal: 4). Oleh karena itu, Agama dalam aspek parsial selalu terpengaruh oleh konteks subjek atau orang yang menjalankannya, namun juga tetap berlandaskan pada titik postulat yang sudah menjadi identitas suatu Agama.

Praktek beragama adalah usaha untuk mewujudkan nilai-nilai luhur yang menjadi tujuan dari konsep agama itu sendiri. Karena sangatlah mustahil apabila nilai-nilai luhur yang abstrak tersebut bisa direalisasikan tanpa adanya perwujudan Agama secara parsial yang memperhatikan konteks pemeluk agama itu sendiri, sehingga proses keberagamaan tidak dipandang sebagai hal yang absurd dan jauh dari jangkauan pola pikir masyarakat, dan yang terpenting adalah konsep keberagamaan tetap pada tujuannya yaitu kemashlahatan ummat.

Praktek Beragama
---------------------
Dalam praktek beragama, hal utama yang harus dikaji dan dipahami, yaitu, hakikat subjek atau pelaku agama itu sendiri, yaitu manusia dengan akalnya.
Manusia adalah makhluq yang memilki 2 fungsi sekaligus yang keduanya harus berjalan seimbang dan harmonis, yaitu:
1. Manusia sebagai Makhluq Sosial
2. Manusia sebagai Hamba Tuhan
Masing-masing fungsi tersebut meiliki ranah atau domain tersendiri. Karena setiap fungsi tersebut diperuntukkan bagi objek yang berbeda, maka prektek atau aplikasinya juga berbeda.

Dalam praktek beragama, Manusia sebagai makhluk sosial (dalam hal ini agamawan) mengambil domain publik untuk meletakkan nilai-nilai agama yang dianutnya, sehingga respon manusia tak lepas dari konteks publik yang terkadang sangat beragam. Maka manusia juga membutuhkan pengetahuan tentang hukum sosial dan kajian keilmuan yang lain, sehingga praktek beragama dalam masyarakat tidak menyimpang dari peradaban masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini, agama yang dimaksud mencakup tentang dialektika masalah hukum maupun realisasi keberagamaan yang harmonis yang tujuan utamanya tidak lain adalah kemashlahatan ummat (masyarakat secara keseluruhan).

Di sisi lain, manusia memiliki domain khusus dalam praktek beragama, yaitu praktek beragama personal. Dalam hal ini, komunikasi manusia (agamawan) hanya tertuju pada keyakinan pribadinya, yaitu persepsinya tentang postulat agama yang diyakini dan dirasakannya secara pribadi; pada Tuhan yang diyakininya beserta semua dogma-dogmanya. Maka kali ini manusia berada pada fungsi yang ke-dua, yaitu manusia sebagai hamba Tuhan.

Dalam fungsi yang ke-dua ini terkandung sifat independen dan relatif, oleh karena itu, dalam prakteknya selalu dipengaruhi oleh pribadi masing-masing manusia dalam menghayati dan mengenal Tuhannya secara pribadi. Maka dalam hal ini, yang berperan adalah sisi spiritual seorang manusia. Oleh karena itu, masing-masing pribadi memilki konsep spiritual yang berbeda, dan hal itu merupakan hak prerogative tiap-tiap manusia.

Kadang seorang manusia akan sangat tampak pluralis dalam ranah publik, namun dalam ranah personal dia akan sangat fanatis pada postulat agamanya.
begitu juga sebaliknya. Maka manusia harusnya dapat memiliki virtu, yakni sikap yang tepat pada waktu dan tempat yang tepat dalam merealisasikan kedua fungsinya (sebagai makhluq sosial dan hamba Tuhan). Sehingga tak akan terjadi deklarasi publik yang menfatwakan bahwa hanya agama yang dianutnya yang benar. Karena hal itu akan menimbulkan disintegrasi dalam bermasyarakat. Dan tak akan terjadi pemerkosaan iman oleh keyakinan lain, dengan mempermasalahkan ritual keagamaan pemeluk agama lain yang dianggap tidak realistis menurut pandangannya, karena tiap-tiap keimanan sudah selayaknya memperoleh penghormatan yang agung, bukan malah dikritisi dan dipermasalahkan dalam ranah publik, karena yang demikian adalah keyakinan masing-masing personal dan sudah menjadi hak prerogative dalam praktek beragama secara personal.

Pada akhirnya, untuk menjadi manusia yang baik, seorang pemeluk agama tidak hanya membutuhkan pengetahuan agama saja melainkan juga etika dalam beragama. Ketika seorang agamawan telah memahami tentang etika beragama, ia tak akan berpikiran kerdil dalam langkah kehidupannya, karena ia telah menjalankan kedua fungsi manusia dengan tepat dalam waktu dan tempat yang tepat.