Powered By Blogger

Profile

Foto saya
Just the notes to make my mind development as a journal.

No true scotsman

| Selasa, 21 Juni 2011 | 0 komentar |

Istilah no true Scotsman diambil dari buku Thinking About Thinking karangan Antony Flew.
A
Ach! No Scotsman puts sugar on his porridge.
B
But my uncle Angus likes sugar with his porridge.
A
Ah yes, but no true Scotsman puts sugar on his porridge.
Jadi bentuk umumnya seperti ini:
Bentuk
P diasumsikan benar x menyatakan P salah ∴ Diasumsikan P benar dalam kondisi yang lebih murni
A
Tidak ada orang Gresik yang bahasa Inggrisnya bagus.
B
Heee jangan salaah. Ibuku orang Gresik tapi bahasa Inggrisnya bagus.
A
Ya, tapi tidak ada orang Gresik asli yang bahasa Inggrisnya bagus.
B
Ibuku orang Gresik asli.
A
Memang, tapi orang Gresik asli yang benar-benar keturunan orang Gresik asli bahasa Inggrisnya tidak bagus.

Complex Question

| | 0 komentar |

Sering orang bertanya sesuatu dengan menambahkan kalimat, “Jawab saja ya atau tidak.”
A
Kalau pacaran boleh berciuman tidak?
Pendeta
Begini, ada hal-hal yang pada dasarnya baik.
A
Tolong jawab ya atau tidak saja.
Apakah setiap pertanyaan bisa dijawab dengan ya atau tidak saja? Seringkali sebuah pertanyaan mengandung banyak pertanyaan lain, atau sudah mengasumsikan sesuatu. Ini disebut pertanyaan yang kompleks, nama latinnya plurium interrogatium. Pertanyaannya sendiri bukan fallacy. Tetapi ketika pertanyaan yang kompleks harus dijawab dengan ketentuan tertentu, sering merupakan fallacy.
Heri
Jawab saja ya atau tidak, kamu sudah mengembalikan barang yang kamu curi?
Kasim
Hah? Apa maksudmu?
Heri
Jawab saja ya atau tidak.
Pertanyaan ini belum tentu bisa langsung dijawab. Karena si penanya sudah mengasumsikan bahwa orang inilah pencurinya.
A
Mengapa kamu begitu lemah, apa kesulitannya? Kamu seharusnya berjuang keras agar juara lomba. Kamu pasti bisa. Saya dan teman-teman mendukung kamu kok.
Hati-hati menanyakan pertanyaan seperti di atas. Belum tentu orang yang kamu tanya ingin menjadi juara.
Ingat juga bahwa dalam konteks menginterogasi tersangka kriminal, dibutuhkan jawaban yang jelas. Jadi jawaban “ya” atau “tidak” saja seringkali lebih dibutuhkan daripada penjelasan panjang lebar. Tetapi harus disusun pertanyaan yang benar-benar dapat dijawab dengan “ya” maupun “tidak”. Dengan kata lain, harus disusun pertanyaan yang tidak kompleks.

Ad Nauseam

| | 0 komentar |

Argumentum ad nauseam atau argumen berdasarkan pengulangan adalah argumen yang didasarkan pada seringnya suatu pernyataan didengar. Biasanya digunakan dalam politik. Misalnya, untuk menyatakan bahwa semua orang yang menggunakan kawat gigi harus dibakar, maka seseorang menyiarkan hal itu (ini disebut propaganda) dalam berbagai bentuk secara berulang-ulang. Masyarakat – yang biasanya berpikiran dangkal – mudah sekali dipengaruhi oleh hal-hal itu sehingga pada akhirnya hampir semua orang mempercayai dengan tulus hatibahwa semua orang yang menggunakan kawat gigi harus dibakar.
Jadi dengan demikian kepercayaan masyarakat muncul dengan pengulangan-pengulangan informasi tertentu, yang seringkali bermuatan motivasi pribadi seseorang yang sangat jahat. Bentuk penalarannya adalah:
Bentuk
P diterima berulang-ulang ∴ P benar
Penggunaan fallacy ini yang dampaknya sangat menakutkan dalam sejarah dilakukan oleh Adolf Hitler.

Ad Baculum

| | 0 komentar |

Baculum berarti tongkat. Argumentum ad baculum berarti argumen yang didasarkan atas ketakutan bahwa ia akan “dipukul pakai tongkat”.
Bentuk
Jika si x tidak setuju P, maka Q Q merupakan ancaman terhadap x. ∴ P benar
atau bagi si penderita
Jika si x tidak setuju P, maka Q Q merupakan ancaman terhadap x. ∴ xharus menerima P agar tidak mengalami Q
Bomi
Alkitab benar.
Mila
Kok kamu yakin?
Bomi
Karena kalau tidak yakin akan masuk neraka.
Jadi, Bomi percaya bahwa Alkitab benar bukan karena Alkitab memang benar, tetapi karena ketakutannya bahwa ia akan masuk neraka kalau tidak mempercayainya. Dengan demikian, bagi Bomi sebenarnya tidak jadi soal apakah Alkitab memang benar atau salah, yang penting ia tidak masuk neraka.
Guru
Nak, mengapa kamu yakin 1+1=2?
Murid
Waktu itu saya jawab 1+1=7 lalu saya dipukul ibu saya. Jadi yang benar 1+1=2.

Ex Silentio

| | 0 komentar |

Ex silentio berarti “keluar dari kesunyian”. Ini adalah kesalahan ketika kamu menyimpulkan sesuatu berdasarkan ketidaksediaan orang lain untuk berbicara.
Mila
Jel, kamu bisa bahasa Mandarin?
Enjel
Bisa.
Mila
Coba ngomong.
Enjel
Nggak mau ah, nggak enak ngomong di sini.
Mila
Halah, nggak bisa aja.
Dalam contoh barusan Mila menyimpulkan bahwa Enjel pasti tidak bisa bahasa Mandarin, karena Enjel tidak bersedia membuktikannya.
Mila
Kamu berdua pacaran ya?
Enjel
Aku nggak mau bilang.
Mila
Berarti iya.
Bentuk umum dari kesesatan ini adalah:
Bentuk
x tidak bersedia menjawab ∴ simpulkan sendiri

Ad Ignorantiam

| | 0 komentar |

“Absence of evidence is not evidence of absence.”
Ad ignorantiam adalah argumen yang disusun berdasarkan ketidakmampuan membuktikan sesuatu, sehingga sesuatu itu dianggap tidak benar.
Bentuk
P tidak dapat ditunjukkan kebenarannya ∴ P salah
Contoh:
Ruri
Aku tidak percaya kalau di dunia ini ada hantu.
Enjel
Lho, kenapa?
Ruri
Karena sepanjang hidupku aku tidak pernah lihat hantu.
Seandainya kamu hendak membuktikan ada kehidupan di planet lain, dan ada 1 milyar planet di alam semesta (misalnya) tidak termasuk Bumi. Ketika kamu berhasil membuktikan bahwa 999.999.999 planet tidak ada kehidupan, apakah berarti tidak ada kehidupan di planet lain? Belum tentu. Masih ada 1 planet yang belum kamu periksa. Setelah kamu menyelidiki semuanya pun, masih ada kemungkinan bahwa di salah satu planet yang telah kamu selidiki, sebenarnya pernah ada kehidupan, tetapi sudah hilang tanpa bekas.
Dalam membuat konstitusi sangat penting sekali untuk menyadari jika sesuatu tidak tercantum dalam konstitusi itu, tidak boleh disimpulkan bahwa sesuatu itu tidak ada.

Ad Antiquitatem

| | 0 komentar |

Kalau ad novitatem menganggap yang baru paling baik, maka ad antiquitatemmenganggap yang semakin lama semakin baik.
Bentuk
P sudah lama ∴ P benar/paling baik
Contoh:
“Mengapa kamu tidak mau mengubah kemasan produkmu?”
”Sudah sejak 1818 kami turun temurun menggunakan kemasan ini. Ini adalah yang terbaik.”
Tidak tentu ad antiquitatem selalu salah. Misalnya, karena kemasan produk tertentu sudah menjadi trademark, maka jika diubah menuruti selera zaman mungkin malah jadi tidak laku. Dan untuk memperkenalkan kembali produk itu, mungkin perlu usaha dan waktu yang sangat besar.
Demikian juga, dokumen yang lebih otentik adalah dokumen yang umurnya paling tua.