Powered By Blogger

Profile

Foto saya
Just the notes to make my mind development as a journal.

Fallacies - Kesesatan Pola Pikir

| Selasa, 21 Juni 2011 | 0 komentar |


Papa
Budi, Mulai besok kamu tidak boleh main basket lagi.
Budi
Lho! Kenapa Pa?
Papa
Papa lihat nilaimu belakangan mulai turun. Kamu terlalu banyak main basket.
Budi
Pa, saya main basket cuma seminggu dua kali. Seminggu ini memang saya hampir tiap hari main, tetapi itu kan karena minggu depan mau lomba. Nilai saya turun kan sudah dari sebulan yang lalu.
Papa
Pokoknya kamu nggak boleh main basket lagi!
Pembicaraan yang tidak asing di telingamu?
Hoho. Papanya Budi – seperti halnya papa-papa yang lain – telah melakukan kesalahan logika yang beliau tidak sadari. Papanya Budi menghubung-hubungkan antara nilai yang turun dengan main basket. Padahal belum tentu ada hubungan, bukan?
Kesalahan-kesalahan seperti itu disebut fallacies atau kesesatan dalam penalaran. Fallacies adalah penalaran-penalaran yang sering seolah-olah benar, tetapi sering juga ternyata mengandung kesalahan yang sangat serius. Karena kedengarannya seperti benar, maka kita pun tidak menyadari bahwa itu salah.
Di bawah ini kamu akan mendapati daftar kesesatan-kesesatan yang umum dibuat ketika orang menalar. Sebenarnya ada banyak sekali kesesatan yang mungkin dibuat orang, tetapi hanya sebagian kecil yang dapat ditulis di sini. Tidak semua kesesatan merupakan hal yang pasti salah. Kadang-kadang bisa memunculkan kesimpulan yang benar, kadang-kadang salah. Juga, tidak berarti kita harus mutlak menghindari kesesatan. Mengapa? Karena pengetahuan kita terbatas. Contohnya, percaya bahwa “saya adalah anak ibu saya” sering hanya berdasarkan kepercayaan terhadap kata-kata orang tua, atau hanya berdasarkan rasa sayang terhadap ibu. Ini adalah sebuah fallacy, tetapi cukup baik untuk dipakai. Kita tidak mungkin menghindari fallacy sama sekali.

Kesesatan Generalisasi

| | 0 komentar |


Anton
Semua orang pasti suka kalau diberi uang.
Badi
Kok tahu? Kamu sudah tanya semua orang?
Anton
Belum.
Badi
Lha kok tahu?
Anton
Tahu dong. Dari saya kecil sampai hari ini, setiap orang yang saya temui suka kalau diberi uang.
Badi
Kamu sudah ketemu semua orang? Kan belum.
Anton
Memang belum. Tapi saya pikir semua orang pasti seperti itu juga.
Banyak sekali kepercayaan kita yang sebenarnya adalah hasil dari penalaran semacam itu. Penalaran semacam itu disebut sebagai generalisasi. Generalisasi artinya, kita menyimpulkan sifat keseluruhan berdasarkan sifat sebagian saja.
Misalnya, kamu bisa yakin bahwa semua kuda pasti suaranya meringkik. Mengapa? Karena selama ini kuda yang kamu dengar suaranya meringkik. Jadi penalaranmu berbentuk:
Waktu itu saya dengar kuda suaranya meringkik.
Di waktu yang lain juga.
Di waktu yang lain lagi juga.
Berarti semua kuda suaranya meringkik. (generalisasi)
Lho, bukankah ini belum tentu benar? Memang belum tentu benar. Tetapi karena keterbatasan kemampuan kita (kamu tidak mungkin mengamati semua kuda di dunia), maka menarik kesimpulan dengan cara seperti ini masih oke-oke saja, dengan beberapa pertimbangan tertentu.
Pertimbangan apa? Pertama, banyaknya pengamatan yang kamu buat haruslah cukup besar (tidak perlu sampai semuanya, yang penting cukup besar). Yang kedua, pengamatan yang kamu buat tidak boleh bias. Ini akan dijelaskan kemudian.
Nah, ketika kamu tidak hati-hati, kamu bisa tidak jatuh dalam kesesatan-kesesatan berikut ini.

Kesesatan Statistik

| | 0 komentar |

- Dialog: Tidak semua laki-laki -
Mila: Memang semua laki-laki buaya! Andri: Enak aja, aku laki-laki. Kalau semua laki-laki buaya, kenapa kamu curhat denganku? Mila: Iya, maksudku semua laki-laki selain kamu. Andri: Semua laki-laki selain aku? Bagaimana dengan papamu? Mila: Iya, selain kamu dan papaku. Andri: Kakakmu? Mila: Iya, dia juga tidak. Andri: Pak Burhan? Mila: Iyaaa iyaaa, cuma Jono yang buayaaaaa! Puass?

Ingatkah kamu dengan satu atau dua pembicaraan dengan temanmu yang mirip dengan situasi di atas?
Mila, karena disakiti oleh satu orang, yaitu Jono, akhirnya menyimpulkan bahwa semua laki-laki memiliki sifat seperti Jono. Ini adalah kesalahan Mila yang pertama. Jono hanyalah satu orang dari trilyunan laki-laki yang pernah hidup di muka bumi. Hanya dengan mengetahui sifat satu orang, kita tidak bisa menyimpulkan sifat trilyunan orang lainnya. Mengapa Mila mudah sekali menyimpulkan seperti itu? Karena Mila sedang sakit hati sehingga tidak dapat berpikir jernih.
Karena itu sahabatnya, Bomi, berusaha menyadarkannya dengan membuktikan bahwa hal itu salah (seorang sahabat yang baik akan mampu berpikir jernih ketika kamu tidak mampu, tidak akan tenggelam bersamamu). Dalam sekejap Mila disadarkan bahwa ia salah. Tetapi ia tidak langsung mengakuinya. Ia berusaha membuat dirinya tampak benar dengan mengungkapkan hal itu sebagai kasus pengecualian. Tetapi sayang, kasus pengecualiannya menjadi sangat banyak! Akhirnya Mila harus dengan enggan mengakui bahwa ia mengambil kesimpulan itu hanya karena rasa sakit hatinya terhadap Jono.
Nah, ada banyak sekali kesalahan-kesalahan umum yang kita buat sehari-hari, seperti yang dibuat Mila. Kadang-kadang kesalahan itu hanya akan membuatmu malu atau merasa lucu di antara teman-temanmu. Tetapi di saat yang lain bisa sangat berbahaya karena dapat menimbulkan kerusuhan massa yang membinasakan ribuan orang, atau bahkan perang dunia. Karena itu, sebaiknya kamu mengenali kesalahan-kesalahan umum yang sudah dicatat dan diberi nama ini.

Denying the antecedent

| | 0 komentar |

Bacalah terlebih dahulu affirming the consequent.
Kalau yang dinyatakan bukan konsekuen tetapi negasi dari anteseden, dan dari situ disimpulkan pasti konsekuennya salah, itu juga merupakan penalaran yang tidak logis. Namanya denying the antecedent (menyangkal anteseden).
Denying the antecedent
A → B ¬ A ∴ ¬ B
Contoh:
Kalau saya tidur, mata saya tertutup. Saya tidak tidur. Berarti mata saya tidak mungkin tertutup.
Ketika saya mengatakan “kalau saya tidur, mata saya tertutup”, saya tidak sedang mengatakan apa-apa tentang “kalau saya tidak tidur”. Jadi sebenarnya kita tidak tahu apa-apa (berdasarkan premis) mengenai apa yang akan terjadi ketika saya tidak tidur.
Kesesatan ini sering dipakai untuk melucu di antara teman-temanmu:
“Lu bisa nggak ulangan tadi?”
”Ga bisa, soalnya yang gua pelajarin ga ada yang keluar.” (kalau yang saya pelajari tidak keluar, saya tidak bisa)
”Memangnya kalau yang lu pelajarin keluar, lu bisa?” (yang kamu pelajari keluar, berarti kamu bisa)
”Nggak bisa juga. Hehehe.” (ternyata tidak bisa)
Contoh lain yang sering membuat orang tersesat adalah:
“Nak, kalau kamu tidak naik kelas, Papa tidak belikan kamu motor.”
Beberapa bulan kemudian, sang anak datang pada papanya. “Papa, saya naik kelas! Mana motornya!”
Papanya menjawab, “Lho, siapa yang mau ngasih motor?”
“Papa jahat! Papa bohong! Papa pengkhianat bangsa dan negara!”
Silahkan kamu analisa sendiri sebenarnya siapa yang salah.

Affirming a consequent

| | 0 komentar |

Dalam sebuah implikasi aba disebut sebagai anteseden, dan b disebut sebagaikonsekuen. Penarikan kesimpulan yang logis dari setiap implikasi dapat berbentuk:
Modus Ponens
A → B A ∴ B (modus ponens)
atau
Modus Tollens
A → B ¬ B ∴ ¬ A (modus tollens)
Kedua bentuk penalaran ini adalah logis. Tetapi bentuk berikut ini adalah tidak logis, yaitu dengan menyatakan bahwa konsekuennya benar (affirming the consequent).
Affirming the consequent
A → B B (konsekuen benar) ∴ A
Contohnya:
Kalau Bomi malas, ia pasti akan tidak naik kelas. Ia tidak naik kelas, berarti ia malas.
Kalau Bomi seorang gay, ia akan menderita AIDS. Ia menderita AIDS. Berarti ia seorang gay.
Jelas bahwa dengan menyatakan “kalau Bomi seorang gay, ia akan menderita AIDS” masih menyisakan kemungkinan bahwa Bomi bisa menderita AIDS dengan cara lain.
Bedakan dengan penalaran ini:
Jika dan hanya jika Bomi seorang gay, ia akan menderita AIDS. Ia menderita AIDS. Berarti ia seorang gay.
Di sini tidak ada kemungkinan lain yang menyebabkan Bomi menderita AIDS.
Kesalahan fatal yang biasanya terjadi dalam ilmu pengetahuan sering berbentuk kesesatan ini. Contohnya:
Kalau teori evolusi benar, maka ketika kita menggali tanah, kita akan menemukan fosil paling sederhana ada di lapisan paling bawah, kemudian semakin ke atas semakin rumit. Sampai hari ini penggalian-penggalian menunjukkan hasil seperti itu. Berarti teori evolusi pasti benar.
Itu adalah bentuk kesesatan. Ketika yang terjadi seperti itu kita hanya dapat menyimpulkan “teori evolusi mungkin benar.” Kecuali pernyataan implikasinya diganti sebagai biimplikasi, “Jika dan hanya jika teori evolusi benar, maka… bla… bla…”. Tetapi sikap seperti itu terlalu berani dalam ilmu pengetahuan, karena tidak ada yang dapat menjamin hal itu.
Albert Einstein (1879-1955) memberikan teladan yang sangat bijak. Ketika ada orang yang berhasil membuat percobaan yang cocok dengan teorinya, ia mengatakan, “Seribu eksperimen yang cocok dengan teori saya, tidak membuktikan kebenaran dari teori itu, tapi adanya satu eksperimen saja yang bertentangan dengan apa yang diturunkan dari teori saya, akan merobohkan teori itu.” Jadi orang sering membuat kesalahan seperti ini:
Teori
Jika teori A benar, maka B Percobaan menunjukkan B ∴ A benar

Affirming a disjunct

| | 0 komentar |

Ketika kamu mengatakan, “saya bisa ke sekolah atau ke warnet.”, apakah yang kamu maksud:
Saya bisa ke sekolah saja, atau saya bisa ke warnet saja, tetapi tidak mungkin pergi ke kedua tempat tersebut;
Ataukah yang kamu maksud:
Saya bisa ke sekolah saja, bisa juga ke warnet saja, tetapi bisa juga sekaligus pergi kekedua tempat tersebut (misalnya, warnetnya terdapat di dalam sekolah).
Nah, kata “atau” di sini bisa memiliki arti eksklusif maupun inklusif. Karena ketidakjelasan arti “atau” di sini, sering orang salah menyimpulkan sesuatu, seperti yang terjadi pada percakapan berikut:
Bomi
Enjel, kamu lihat Mila tidak?
Enjel
Tidak, tapi sepertinya sedang di WC, atau mungkin dia sedang membersihkan sesuatu.
Kongi
Mila lagi di WC.
Bomi
Oh, kalau begitu ia tidak mungkin sedang membersihkan sesuatu.
Nah, Bomi melakukan kesalahan. Jelas, kalau Mila sedang di WC, sangat mungkin ia sedang membersihkan sesuatu juga (silahkan tebak). “Sedang di WC” dengan “sedang membersihkan sesuatu” bisa terjadi bersamaan, atau tidak bersifat eksklusif.
Lain halnya dengan contoh ini:
Bomi
Mila, hamstermu mana?
Mila
Dari kemarin menghilang. Sekarang mungkin masih hidup atau sudah mati.
Kongi
Pasti masih hidup, ia kan kuat.
Bomi
Oh, kalau begitu ia tidak mungkin sudah mati.
Contoh barusan logis, karena “masih hidup” dengan “sudah mati” tidak bisa terjadi bersamaan, atau bersifat eksklusif.
Bentuk umum dari kesalahan ini adalah:
Bentuk
A ∨ B A ∴ ¬ B
Bandingkan dengan silogisme disjungtif, silogisme disjungtif adalah logis:
Silogisme disjungtif (logis)
A ∨ B ¬ A ∴ B (silogisme disjungtif)
demikian juga yang bersifat eksklusif:
Silogisme disjungtif (eksklusif)
A  B A ∴ ¬ B (silogisme disjungtif - eksklusif)

Poisoning the well

| | 0 komentar |

But words are things, and a small drop of ink, Falling like dew upon a thought, produces That which makes thousands, perhaps millions, think.
- Lord Byron (1788 - 1824)
Posoning the well atau meracuni sumur adalah istilah untuk kesesatan berbentuk:
Bentuk
Pernyataan P menjatuhkan x ∴ Semua perkataan x salah
Biasanya dikatakan kepada banyak orang, agar mereka punya asumsi negatif terhadap orang/kelompok tertentu.
Contoh:
Suatu hari ada kampanye calon ketua OSIS. Aming di akhir kampanyenya mengatakan,
Aming
Sebelum saya persilahkan calon berikutnya, yaitu Bomi, saya ingatkan pada kalian semua, bahwa acara tahun lalu gagal karena dia.
Maka semua program yang dibicarakan Bomi tidak ditanggapi dengan baik oleh pendengar.
Berhati-hatilah ketika curhat. Mengapa? Karena ketika kamu curhat dengan si A mengenai si B, kamu punya asumsi tertentu tentang si B, bukan? Sehingga si A yang mendengarkan kamu akan punya asumsi yang belum tentu benar terhadap B.
Enjel
Mami, saya sebel sama guru saya. Masak nilai saya jelek terus sama dia. Sudah gitu waktu saya protes saya malah dimarahi.
Mami
Apa? Guru macam apa itu! Besok mami ke sekolah.
Sekarang maminya Enjel punya pandangan negatif terhadap guru itu. Padahal, mungkin guru itu juga curhat dengan guru lain seperti ini:
Guru itu
Si Enjel ini gimana ya, kok nilainya jelek terus. Padahal sudah dikasih nilai tambahan banyak sekali.
Guru lain
Dia yang itu protes nilai itu ya?
Guru itu
Iya, dia protesnya ga sopan sih. Jadi saya marahi.
Jadi berhati-hatilah ketika curhat dengan orang lain. Pastikan ia cukup bijaksana sehingga tidak terpengaruh oleh asumsi kamu. Kalau kamu jadi orang yang “dicurhati”, lebih baik tetap berpikiran netral, dan kalau bisa coba dengar kisah dari kedua belah pihak.