Powered By Blogger

Profile

Foto saya
Just the notes to make my mind development as a journal.

Bahaya Agama Tanpa logika

| Minggu, 14 Agustus 2011 | 0 komentar |

Logika berasal dari kata Yunani Kuno Logos yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran. Logika adalah pengetahuan dan kemampuan untuk berpikir, menyimpulkan dan mempertimbangkan. Logika mutlak diperlukan dalam ilmu filsafat, matematika, dan sains.

Di jaman yang semakin berkembang dan semakin maju ini, tak bisa dielakkan, logika bukanlah milik filsafat, matematika dan sains lagi. Tanpa kemampuan akal pikiran untuk bisa mengetahui apa yang benar, apa yang palsu, kita akan diombang ambingkan dan disesatkan dalam kehidupan oleh orang orang yang mencoba menarik keuntungan untuk dirinya sendiri.

Logika mutlak diperlukan supaya bisa menjalani kehidupan secara “sehat” dan “normal”. Tidak terkunci dan menutup diri kita dengan sebuah paham, kepercayaan dan pandangan. Salah satu paham, kepercayaan dan pandangan yang berbahaya adalah apa yang diajarkan dan ditanamkan oleh Agama. Bila kita hanya mengandalkan “iman” “hati” “perasaan” dan intuisi subyektif belaka, maka agama bisa menjadi paham, kepercayaan, dan pandangan yang sangat keliru.

Agama memerlukan logika, bukan hanya kotbah dan nyanyian dari orang orang SAKTI MANDRAGUNA bertitel Pdt, KH, Pandita, Biksu, Bikhuni, etc. Sudah saatnya meninggalkan segala dongeng, takhayul dan cerita cerita isapan jempol belaka dan berpaling kepada akal budi dalam menghadapi fenomena kehidupan.

Segala macam sumbangan, perpuluhan, bayar karma, bayar dosa, iuran pengampunan, THR sorga dan akherat, sebaiknya disikapi dengan lebih bijak dan tidak membabi buta. Berikanlah serela dan seiklasnya dari kita dengan menyadari bahwa Agama memang membutuhkan “dana” dan “uang” untuk mengembangkan ajarannya, membangun lebih banyak lagi gedung dan tempat ibadah, dan biaya perawatan untuk mempertahankan eksistensinya. Jangan memberi karena TAMAK dan BERHARAP pada imbalan yang dijanjikan berpuluh kali lipat bahkan berjuta kali lipat dari pemberian kita. Mengorbankan sebagian uang tabungan, menarik uang arisan, dan memaksakan diri pada saat kondisi kita sedang sulit, hanya supaya bisa mendapatkan pahala 1.000.000 kali.

Dengan logika, kita bisa menyaring, menyimpulkan dan mempertimbangkan DATA DATA yang diberikan oleh agama. Mempelajari dan membedah semua data yang ada, mengambil hal hal yang baik dari pesan, ajaran, cerita yang disampaikan. Agama banyak menyajikan kisah kepahlawan dan kisah kesaktian pahlawannya berdasarkan pandangan dari komunitasnya sendiri saja. Kisah kepahlawanan dan kisah kesaktian itu diusung, dibukukan dan dijadikan kisah baku yang harus dipercayai dan DIIMANI begitu saja oleh para pengikutnya. Tanpa pertanyaan, penolakan dan keraguan.

Logika akan sangat membantu kita memberi makna pada kehidupan kita. Memberikan pengertian bahwa untuk mendapatkan kehidupan yang baik, diperlukan juga perbuatan dan tindakan penuh kebaikan. Kesuksesan didapatkan dari perencanaan yang matang, ikhtiar, kesabaran, ketekunan, kerja keras dan ITIKAD BAIK. Mulailah dengan satu ONS berbuat, bukan dari berjuta juta TON DOA.

Untuk memiliki keluarga yang bahagia, sahabat baik, jodoh/pasangan yang setia, mulailah dengan membuang ke-AKU-an dan ke-EGOIS-an dalam diri kita.

Apapun yang kita lakukan dan perbuat dalam kehidupan ini, semua hasil dan imbalannya didapatkan oleh kita, hari ini, di sini, di bumi tercinta ini. Bukan di akherat, nirwana, taman firdaus, surga atau neraka. Akherat, nirwana, taman firdaus, surga atau neraka hanyalah label label dagang yang dijual dengan harga mahal oleh para pedagang Agama.


Dan semua perbuatan dan tindakan kita itu harus dilandasi dengan ilmu pengetahuan akal pikiran yang kita sebut dengan LOGIKA. Dengan semakin sering menggunakannya, kecerdasan kitapun akan semakin terasah.

Sugiarto Djie    

Golden Rule

| | 0 komentar |


BUDHA:
"...suatu keadaan yang tidak menyenangkan bagiku, bagaimana aku dapat melakukan hal yang sama terhadap orang lain ?" Samyutta Nikaya v. 353
Jangan sakiti orang sebagaimana itu akan menyakiti dirimu." Udana Varga 5:18

HINDU:
"Inilah kesimpulan Dharma: Jangan perlakukan orang lain sehingga menyakitkanmu jika itu dilakukan padamu." Mahabharata 5:1517

KRISTEN:
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Mateus 7:12.

KONG HU CU:
"Ze-Gong bertanya, 'Apakah ada satu kata yang bisa merangkum prinsip kelakuan manusia?' Konfucius menjawab, 'Kata 'XU' -- resiprositas. Jangan berlakukan terhadap orang lain apa yang kau sendiri tidak suka.'" Doctrine of the Mean 13.3


five-dollar sin

| | 0 komentar |


The head priest at a certain church was out for the day, so he asked the deacon to do confession for him. The deacon agrees, and the first person that comes says, "Forgive me, for I just gave a guy a blow job." He says, "You have sinned."

Then he looks at the sheet on the wall that had punishments for certain sins on it, but blow job was not on there, so he went out to ask one of the altar boys what he usually gives for a blow job. The altar boy answered, "Oh, about five dollars."

Is God Real?

| | 0 komentar |
An atheist professor was teaching a college class at Alahama and he told the class that he was going to prove that there is no God. He said, "God, if you are real, then I want you to knock me off this platform. I'll give you 15 minutes!" Ten minutes went by.

He kept taunting God, saying, "Here I am, God. I'm still waiting." He got down to the last couple of minutes and a big 240 pound football player in the class walked up to the professor, hit him full force in the face, and sent him flying from his platform. The professor struggled up, obviously shaken and yelled, "What's the matter with you? Why did you do that?"


The football player replied, "GOD WAS BUSY; HE SENT ME!"

Compare with our country and FPI


Visit indonesian Year

| | 0 komentar |


Get to know this beautiful country where you can KILL people of a different religion, and GET FREE PASS out of JAIL when you get caught. 
And dont FORGET, in this country, the more you kill others by behalf a God of Majorities, the less punishment will be imposed to you 

CONTACT your nearest FPI offices for brochures on HOW to kill Christians.
To kill Moslems check out your nearest HKBP offices.
IT'S A BLOOD CURLING SENSATION LIKE NO OTHER!

INDONESIA
is also GREAT country for corruptors!! 
so, DONT miss the chance to CHEAT the people's money and LIVE to tell about it, for this HOLIDAY SEASON ONLY! ALSO you will get a FREE ticket to BALI & watch TENNIS MATCHES!

To get tips on HOW to CHEAT MONEY in Indonesia contact---> Mr. Jayus Tamblungan
To get tips on HOW to be FUGITIVE and Media Provocateur , contact -----> Mr. Nazarrudin 

Not to forget... GREAT football matches where you can have the first hand experience of RIOT and EXCELLENT LOOTING all outside your FRONT DOOR when you step out of your HOTELS!

Don't miss the BUS RIDE as well. CRAZY BUS DRIVERS are a great experience that you should not MISS!

And for YOUTHS and KIDS:
Dont miss your chance to attend RIOTS, TIRE BURNING, FLAG BURNING, MOUTH SEWING all ORGANIZED by our Indonesian STUDENTS outside governments buildings! It's just GREAT!
and don't ever miss the will to learn how to make A BOMB CIRCUIT in BOOKShell, it will be an interesting one for a new curriculum of TERROR-MATIC ( beyond mathematic ) too...

GET an unforgetable EXPERIENCE with the MEDIA too while you visit this BEAUTIFUL COUNTRY! STEAL some COCOA in our own COCOA plantation, and then WATCH the COCOA company go NUTS. While the media and the Indonesian people (YES! THE FRIENDLY INDONESIAN CITIZENS) all behind you and supporting your actions!!

THIS COUNTRY IS terribly GREAT!

So what are you waiting for? 

GRAB THIS CHANCE OF A LIFETIME and VISIT INDONESIA!

Rencana Indah

| | 0 komentar |
Sering kali kita mendengar kata "rencana Tuhan indah pada waktunya", dan banyak yang mengangguk-angguk setuju akan hal ini. Tetapi pernahkah kita pikirkan lagi mengenai kata "Rencana Indah" ini ?


Contoh nyata :


- Ada seorang pria yang kehilangan istri dan kedua anaknya, rumah dan seluruh hartanya sewaktu jebolnya tanggul Situ Gintung, dan orang yang menghiburnya mengatakan "Sabar ya pak, Tuhan punya rencana indah untuk mereka (dan bapak)".


- Kelaparan yang melanda negara-negara di afrika (Somalia, Ethiopia, dll) yang tidak berkesudahan. Rencana indah apa dari Tuhan untuk mereka?


Berikut adalah diskusi dari theist dan atheist yang saya singkat dengan (T)heist dan (A)theist.


T : Manusia tidak berhak mengatakan Tuhan kejam, analoginya adalah sebagai berikut: Apakah setiap pengemis yang datang meminta uang kepadamu, pasti kamu kasih? Saya yakin pasti tidak, ada yang tidak kamu kasih dan sebagian yang kamu kasih. Apakah kamu dipersalahkan jika kamu tidak memberikan mereka uang? Tentu tidak kan? Kamu bebas memberi, kamu bebas tidak memberi dan kamu tidak bisa dipersalahkan."


A : Premis di atas akan terasa tidak logis, apabila kita padankan dengan atribut maha kuasa dan maha kasih yang disematkan pada Tuhan karena jika saya maha kuasa dan maha kasih, there wouldn't even be a beggar at the first place. Let's talk bigger. Konon, suatu hari Yesus menyembuhkan mata orang buta. Karena KASIH? Mengapa tidak sekalian menghilangkan KEBUTAAN pada manusia?


T: Tuhan tidak mempunyai kewajiban untuk itu. Seperti halnya Bill Gates, andai pun Anda sekaya diapun, Anda tidak dapat dipersalahkan jika tidak memberi. Tuhan TIDAK wajib menghilangkan kebutaan.


A : Tepat sekali! Saya punya 1000 kursi roda. Tidak terpakai. Ditaruh begitu saja di halaman. Lantas datang seorang suami yang memanggul istrinya karena istrinya lumpuh ke rumah saya. Ia memohon saya memberikan satu saja dari kursi roda itu. Saya TIDAK MAU memberikan! Apakah saya bisa dipersalahkan? TIDAK! Hak saya mau kasih atau tidak!
Itu juga kursi roda milik saya! Apakah saya wajib memberikan? TIDAK!
Kenal aja nggak. Ngapain saya sampai ada kewajiban?


Sampai di sini pembelaan saya pada diri saya sendiri sama persis dengan pembelaan kamu pada Tuhan kamu itu. Nah sekarang:


Saya wajib memberikan kursi roda itu? TIDAK.
Bersalahkah saya karena tidak melakukannya? TIDAK
Apakah keengganan, penolakan saya memberikan 1 saja dari 1000 kursi saya itu kepada wanita lumpuh itu membuat saya terlihat brengsek dan membuat saya menjadi seorang asshole? Sudah pasti.


Saya TIDAK menyalahkan Tuhan Anda karena ia lebih suka mengabulkan doa orang dapat jodoh, dapat pekerjaan, membuat Anda lulus ujian daripada memberi makan jutaan anak berbalut tulang di Somalia. Saya juga TIDAK
bilang Tuhan kamu WAJIB melakukan ini dan itu. Tapi keengganannya, ketidakmauannya dan penolakannya itulah yang membuat ia terlihat brengsek dan kejam di mata saya. Paham sekarang?


Nah sekarang, bagaimana bila tiba-tiba ada fans berat saya datang, menghadang di depan pintu, lalu berkata pada sepasang suami istri malang itu bahwa saya punya rencana indah dengan tidak mau memberikan 1 dari 1000 kursi roda itu? Kedengaran menggelikan sekali, bukan?


----- END OF DISCUSSION -----


Memang, terkadang tampak seperti ada berkah di balik musibah. Blessing in disguise. Seorang pemuda patah kaki ketika berburu sehingga harusdi rawat berminggu-minggu di rumah dan menjadi tidak produktif. Kemudian, tiba-tiba saja ada pengumuman raja sedang mewajibkan para pemuda menjadi serdadu. Pemuda ini selamat dari menjadi serdadu paksaan karena para serdadu yang menjemput ke desanya melihat kakinya yang patah.


Hanya saja "Rencana Indah" ini penggunaannya semakin di-abuse. Tidak pandang bulu lagi, kata ini dihambur-hamburkan tanpa memandang perasaan orang lagi. Pokoknya, musibah = rencana indah dibaliknya. Mau ngap karena tsunami kek, mau gepeng ketimpa beton gempa bumi kek, mau kehilangan suami/istri/anak kek, semuanya rencana indah.


Pada contoh korban Situ Gintung di atas, maukah Anda mendapatkan rencana indah dengan syarat harus kehilangan suami/istri + seluruh anak + rumah + harta? Makhluk macam apa yang memberikan sesuatu yang lebih "indah" lagi dengan cara menenggelamkan istri dan anak-anaknya?


So, setiap kali saya mendengar "rencana Tuhan akan indah pada waktunya", saya tidak bisa tahan untuk tidak berpikir: Mengapa suatu sosok yang serba tahu perlu punya rencana?


Surjanto Kwe  http://www.facebook.com/surjanto.kwe

Menalar Kembali Atheisme Richard Dawkins; Suatu Pemahasan dalam Nalar Filsafat Ketuhanan

| Rabu, 13 Juli 2011 | 0 komentar |
Diawali dengan pengenalan Plato sekitar abad ke 3 sebelum masehi pada konsepsi dunia idealnya yang selama ini dapatlah kita pahami sebagai salah satu konsepsi paling dasar dari upaya eksplanasi sebuah unsur transenden adi kodrati yang kelak peradaban selanjutnya definisikan dalam terminologi Tuhan[1]. Pada rangkaian tradisi filsafat barat selanjutnya pun menaruh perhatian yang begitu besar dalam kaitannya dengan terminologi dalam filsafat ketuhanan, yang mana menemukan kejayaannya pada abad pertengahan. Bahkan akibat terpusatnya pada konsepsi ketuhanan yang terlampau marak dan juga karena otoritas gereja yang begitu kuat saat itu filsafat bukan saja “hanya” terlampau fokus dalam terminologi Tuhan bahkan filsaat seakan-akan telah menjadi hamba bagi teologi, “ancila theologia”[2]. Sampai pada era itu terminologi Tuhan masih mengalun dalam harmonisasi pemikiran yang dalam tendensi mengafirmasi keberadannya.
Akan tetapi, rasa ingin tahu manusia yang begitu besar telah membawa perubahan yang begitu signifikan dalam ranah filsafat ketuhanan. Filsafat ketuhanan yang sampai awal abad pertengahan menjalankan fungsi sebagai uapaya rasional logis yang mencoba menjelaskan Tuhan kemudian mengalami transformasi seiring dengan gerak roda peradaban, hentakan tersebut diawali dengan menyeruaknya konsep heliosentris yang diperkenalkan di sekitar abad 16 oleh Copernicus yang menyatakan bahwa pusat dari tata surya bukanlah bumi sebagaimana dikatakan dalam alkitab[3] melainkan matahari. Hal tersebut telah memberikan suatu gebrakan besar yang tak terelakan dalam tradisi teologis theistik saat itu, tafsir ketat tekstual akan kitab studi terkhusus kitab perjanjian lama yang menyatakan bumi sebagai pusat semessta seakan menemui ajalnya.
Kejayaan kerangka pikir positivistis logis yang menjadi sebuah narasi besar di sekitar penghujung era modern pun terus memberi tantangan bagi kaum teistik untuk kembali merekonstruksi posisinya, dalam artian filsafat ketuhanan pada akhirnya bukan hanya menjadi sebuah benteng pertahanan bagi teisme namun juga sekaligus senjata ampuh bagi atheisme untuk menyerang tradisi besar teologis ataupun theisme secara umum. Sebut saja Karl Marx yang sekalipun baru berbicara dalam tatanan anti agama yang dianggapnya sebagai candu masyarakat, Freud yang dengan pendekatan psikoanalisanya menyatakan Tuhan sebagai ilusi hasil represi alam bawah sadar ataupun Daniel C. Dennet yang cukup dikenal sebagai tokoh atheisme kontemporer. Akan tetapi dalam pembahasan ini penulis tidak akan memberikan uraian terhdap ketiga tokoh atheisme tersebut, dalam pembahasan ini akan kita batasi dengan manjadikan Richard Dawkins sebagai bahasan utama karena penulis menganggap Dawkins selain berangkat dari pendekatan yang lebih pop juga penulis anggap dapat mencerminkan runutan atheisme yang hendak diperkenalkan dalam pembahasan ini.
Sehingga pada akhirnya apa yang menjadi pembahasan kali ini akan dibatasi dalam ranah memahami apa yang dijadikan konsepsi ateisme dari seorang kelahiran Nairobi, Kenya yang bernama Richard Darwkins dimana kritik sebagai tujuan akhirnya sehingga terlebih dahulu pembahasan akan menerangkan apa pandangan Dawkins terkait filsafat ketuhanan, apa yang menjadi pendasaran bagi pandangannya tersebut dan terakhir pembahasan akan diakhiri dengan kritik akan konstruksi akan pemikirannya.
Kerangka dasar
Menyelaraskan Atheisme dan seorang Richard Dawkins bukanlah suatu hal yang aneh, Dawkins sendiri melalui karya-karyanya memang dengan secara gamblang memperkenalkan konsepsi atheisme. Pada rangkaian awalnya atheisme diperkenalkan Dawkins merupakan respon dari serangkaian kejadian yang membuktikan bahwa agama kerap kali malah menjelma sebagai fundamen absolutnya bagi kejadian yang merusak ataupun melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Ditambah lagi menurutnya agama terkhusus agama-agama besar semisal agama semitis telah memberikan perlakuan yang tidak adil dalam kehidupan bermasyarakat. Uraian pada bab ini merupakan suatu pembahasan yang mencoba memperkenalkan sekaligus menarik pembedaan antara atheisme yang selama ini kenal dan atheisme yang sesungguhnya dijunjung Dawkins.
Lebih jauh, Richard Dawkins melalui buku-buku karangannya yakni; The Selfish Gene (1976), The Extended Phenotype (1982), River Out of Eden (1995) , Climbing Mount Improbable(1996), Unweaving the Rainbow (1998), A Devil’s Chaplain (2003), The Ancestor’s Tale(2004) , The God Delusion (2006) , The Greatest Show on Earth (2009) sekalipun berbicara tentang berbagai varian berbeda namun secara umum keseluruhannya memperkenalkan atheisme sebagai sebuah kepercayaan, bukan lagi sebuah ketidak percayaan. Bahwa memang atheisme beranjak dengan pada awalnya menegasikan eksistensi Tuhan menurut Richard Dawkins cukup menjadi batu pijakan awal, tidak lebih. Dalam artian bahwa atheisme menurutnya juga merupakan perjuangan emansipatoris dimana atheisme tidaklah hanya bergerak dalam ranah religiusitas namun juga masuk ke dalam ranah sosio politik yang praktis tidak lagi hanya sekedar wacana dalam ranah perdebatan konseptual.
Ilustrasi 1
Ilustrasi di atas merupakan salah satu contoh yang menunjukan bagaimana atheisme dalam opini umum yang kurang lebih menjadi keluhan yang dilontarkan Dawkins dimana atheis sebagai terminologi telah dilekatakan oleh anekdot keseharian, antara lain kaum atheis yang dianggap memiliki kebebasan yang terlalu berlebih sehingga pada akhirnya melupakan tuhan; kaum atheis yang selama ini dianggap jatuh pada dekadensi moral, dll. Menanggapi anekdot yang beredar dalam masyarakat tersebut dawkins menjawabnya dengan menyatakan bahwa tidak ada bukti akan hal tersebut malah sebagaimana dijabarkan dalam data yang didapat Dawkins[4].
Sekalikpun Dawkins menolak beberapa aspek pada ilustrasi 1 di atas untuk dilekatkan pada atheisme , namun tidak berarti ilustrasi tersebut salah secara keseluruhan. Ada beberapa hal yang penulis pikir sesuai dengan pandangan yang diperkenalkan Richad Dawkins yakni bahwa penekanan atheisme yang dijunjung Dawkins memang sejatinya berasal dari konsekuensi logis dalam ilmu alam, dan terkhusus teori evolusi yang diperkenalkan Darwin di sekitar abad 19. Sehingga ungkapan yang menyatakan individu pada ilustrasi di atas merupakan keturunan dari monyet dengan segala cirinya (dalam ilustrasi di atas hanya disebutkan salah satu cirinya) sekalipun mungkin memang ditujukan sebagai ejekan namun bagi Dawkins hal tersebut merupakan tata keniscayaan yang tidak terelakan.
Tentu saja kepercayaan tersebut bukanlah aksi intuitif yang sifatnya spekulasi belaka, mengingat pendasaran Dawkins berangkat dari pribadinya yang seorang akademisi zoologi yang tentu saja akrab dengan biologi secara umum. Tentang bagaimana derivasi dari runut pemikiran Darwin terkait hal tersebut dan tentunya atheisme akan dibahas pada uraian di bab-bab selanjutnya.
Dalil Pengingkaran Eksistensi Tuhan
Sebelum berangkat lebih jauh untuk dapat menalar atheisme Dawkins secara utuh, bab ini akan mencoba memperkenalkan dalil-dalil dari seorang Richard Dawkins dalam bukunya yang berjudul “God Delusion” dimana ia mencoba mengungkapkan argumennya dalam dua jalan yang berbeda sekalipun memang pararel. Jalan pertama argumen Dawknis berangkat dengan menegasikan terlebih dahulu segala rangkaian argumen yang menuju pengafirmasian keberadaan eksistensi Tuhan , sedangkan jalan yang kedua langsung menyerang sebagai argumen yang menjelaskan mengapa hampir pasti eksistemsi Tuhan tidak ada.[5]
Bahwa memang terminologi naturalistik, evolusi, seleksi alam dan lain-lain akan banyak disebutkan, akan tetapi memang belum akan dibahas secara mendalam di bab ini dengan alasan bab ini memang merupakan pengenalan dan pembahasan serta analisi baru akan kita bahas dalam bab”merunut derivasi nalar Dawkins.”
Adapun argumen yang berangkat dengan menegasikan terlebih dahulu segala rangkaian argumen yang menuju pengafirmasian keberadaan eksistensi Tuhan, yang saya sebut sebagai jalan pertama adalah sebgai berikut[6] :
Argumen “The Ultimate Boeing 747”
Argumen ini sesungguhnya berangkat dari rangkaian teminologi yang diperkenalkan oleh seorang astronom berkebangsaan Inggris bernama Fred Hoyle. Dimana Daekins melengkapai pernyataan Hoyle yang sering dipinjam kaum kresionisme yakni bahwa probabilitas kehidupan di bumi lebih kecil daripada kemungkinan badai menyapu potongan-potongan besi dan merangkai sebuah boeing 747 yang ditanggapi Dawkins dengan menyatakan bahwa hal tersebut (argumen Hoyle) justru haruslah dipandang sebagai argume yang menegaskan ketiadaan eksistensi Tuhan. Hal tersebut disebabkan oleh karena menerima keberadaan Tuhansama sulitnya dengan menerima keberadaan badai yang mampu merangkai Boeing 747.
§ Natural Selection as a Consciousness-Raiser
Dalam argumen ini Dawkins mencoba menjelaskan mengapa eksistensi Tuhan tidak dimungkinkan dengan berangkat dari keberadaan alam semesta beserta isinya yang sebenarnya dapat dijelaskan dengan sangat baik oleh teori evolusi yang diperkenalkan oleh Charles Darwin yang menekankan kosepsi seleksi alam. Menurut Dawkins Seleksi alam juga merupakan variabel kompleks namun tunggal juga mengangkat/membangkitkan kesadaran individu manusia.
§ irreducible complexity atau “kompleksitas takterkurangi”
Seperti halnya argumen “boeing 747”, argumen ini juga dipinjam Dawkins dari pemikir lain, kali ini Dawkins meminjamnya dari pengarang “Darwin’s Black Box” yang terbit di tahun 1996 yaitu Michael Behe. Dimana argumen ini menyatakan bahwa ada beberapa bagian dari sistem organisme biologis yang terlalu sederhana untuk dapat berevolusi namun juga terlalu kompleks untuk dapat bermutasi. Akan tetapi dengan mudah Dawkins menyanggahnya dengan mengatakan bahwa tidak ada hal yang lolos dari konsepsi evolusi, sehingga pengegrtian yang ditawarkan oleh Michael Behe juga tidak valid menurut Dawkins. Sebagai contoh adalag permasalahan organ mata pada manusia.
§ The Worship of Gaps
Atau dalam terjemahan bebas berarti penyembahan akan kekosongan. Sesuai namnya argumen ini amenyatakan bahwa apabila ada sebuauh kekosongan yang dianggap belum mampu dijelaskan oleh a\ilmu pengetahuan terkhusus ilmu alam. Sebenarnya argumen ini lebih ditujukan kepada kaum creationism yang dituding Dawkins terlalu berspekulasi dan menyembah kekosongan perihal proses penciptaan alam dengan menyatakan Tuhan sebagai penciptanya. Kekosongan ini, menurut Dawkins telah dibuktikan sifatnya hanya sementara dan penyembahan akan kekosongan ini malah akan semakin membuktikan bahwa penyembahan yang dilakukan mengada-ada.
§ The Anthropic Principle : Planetary Version dan Cosmological Version
Dalam Argumen ini Dawkins menekankan bahwa sejatinya prinsip antropi (Anthropic Principle) yang menyatakan bahwa awal kehidupan dari semesta terjadi dengan dukungan konstanta fisika serta kimia dalam kaloborasi bukan karena diciptakan Tuhan namun karena mekanisme alam. Jadi sebenarya argumen ini juga tidak jauh berbeda dengan argumen sebelumnya (The Worship of Gaps) yang menyerang ranah yang sama yakni perihal hal-hal yang belum dapat dijelaskan science namun dijadikan wilayah dalam rangka menyembah Tuhan.
Adapun argumen yang masuk dalam kategorisasi jalan kedua adalah serangkaian penolakan akan konsepsi : 5 jalan pembuktian Tuhan menurut Thomas Aquinas . kedua, argumen dari keindahan (The argument from beauty ) ; argumen dari pengalaman spiritual pribadi (Theargument from personal’experience’); Argumen dari kitab suci (The argument from scripture) ; argumen Pascal’s Wager; argumen Bayesian. Yang menurut Dawkins terlalu spekulatif dan pada akhirnya mengada-ada[7]. Namun yang jelas bahwa pada akhirnya uraian ini menunjukan bahwa Dawkins dalam upayanya membuktikan ketiadaan eksistensi Tuhan juga merunut dari konsepsi panjang yang membangunnya baru kemudian merubuhkannya.
Merunut Derivasi Nalar Dawkins
Melihat uraian dalam pembahasan pada bab sebelumnya soal rangkaian argumen Dawkins, ia mempunyai kerangka penalaran tersendiri yang menjadikan segenap argumen-argumen tersebut terkesan mempunyai satu runut. Menjadi pembahasan dalam bab ini adalah bagaimana dan darimana derivasi nalar Dawkins dalam mengeluarkan serangkaian argumen yang ada sehingga kaitan dengan perunutan yang mengacu pada pertanyaan validitas dalam penalaran pemikiran Dawkins juga tidak dapat dihindarkan.
Seperti yang sudah terlihat dan bahkan sudah di singgung dalam uraian awal, Dawkins memang mendasari segala rangkaian penalarannya dalam basis terminologi naturalistik mengingat Dawkins dalam nalarnya cukup menjunjung teori evolusi dari Darwin.Sekalipuin dalam banyak kesempatan banyak kita temui Dawkins memakai teori evolusi dalam penekanannya, namun hal tersebut belumlah mampu menerangkan apa itu sesungguhnya naturalisme dan darimana derivasi validitasnya? Naturalisme sebenarnya merupakan sebuah kerangka pikir yang hanya percaya bahwa apapu itu “bersifat nyata dan merupakan sesuatu yang terdapat dalam ruang dan waktu tertentu[8]” . Jadi jelaslah pula soal permasalahan validitas dari nalar Darwin yang hadir dalam nuansa deterministik khas naturalisme, dalam artian bahwa derministik atau kausalitas yang ditekankan Dawkins membatasi pada mekanisme ke-alam-an yang tentunya terikat konsepsi spasiotemporal.
Merunut lebih jauh ke belakang sesungguhnya naturalisme tidak lain merupakan hasil dari derivasi epistemogis materialisme dalam penekanan empiria juga keketatan berpikir khas positivisme logis. Sehingga realitas yang sebenarnya dalam kerangka nalar Darwin selalu berkutat dalam kerangka penangkapan indrawi juga haruslah dapat diuji kembali dalam pengulangan verivikasi dalam kemeruangan dan kewaktuan yang lain.
Berangkat dari pemahaman derivasi akan nalar Dawkins dapat dimengerti bahwa naturalisme yang dijunjungnya selama ini merupakan pengetahuan dalam upaya memahami kejadian-kejadian dalam relasional kausalitas. Realitas lain yang di luar prinsip-prinsip yang telah dijelaskan bagi Dawkins merupakan oposisi dari realitas sebenarnya, begitupun konsepsi perihal tentang Tuhan dimana Richard Dawkins menyebutnya sebagai delusi. Disebut sebagai delusi tidak lain karena menurutnya peradaban dalam nuansa keagamaan terkshusus afirmasi terhadap Tuhan telah membawa manusia pada kepercayaan yang irasional dalam artian tanpa pendasaran ilmiah[9] sehingga Tuhan tidaklah lebih dari delusi belaka yang sebenarnya malah menjauhkan peradaban manusia dari kenyataan/ realitas sebenarnya.
Menentang kreasionisme dengan konsepsi evolusionisme
Terkait dengan konsepsi awal semeta, sebagai konsekuensi logis dari derivasi penalarannya mencoba menjelaskan kemengadaan semesta melalui kerangka pikir evolusionisme. Mungkin secara singkat pembahasan tentang evolusionisme telah diperkenalkan sebelumnya dalam bab dalil pengingkaran eksistensi Tuhan, namun dalam bab ini penulis akan mencoba lebih mendalami problematika yang terkait di dalamnya yang tentu saja masih menggunakan perspektif Dawkins sebagai sudut pandang utamanya.
Pada dasarnya argumen evolusionisme berpendirian bahwa alam semesra terjadi akibat mekanisme kausalitas yang melibatkan variabel unsur kimia juga fisika dalam mekanismenya. Alam bukan diciptakan melainkan terciptakan, tidak ada “grand design” sebagaimana yang dipercaya kaum kreasionisme sehingga tidak diperlukan Tuhan dalam terciptanya alam semesta karena semesta tidak lain adalah ketidaksengajaan yang mengaktualisasi posibilitas yang ada. Artinya alam dengan segala keteraturannya merupakan mekanisme yang ‘tidak disengaja’ yang mana hal tersebut dapat dijelaskan melalui science.
Dalam bukunya The God Delusion (2006) Dawkins dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang yang percaya pada kerangka kreasionisme tidak lebih dari sekumpulan orang yang tidak berani, malas dan juga tidak rasional karena tidak berusaha menjelaskan alam sebagaimana fenomena kausalitas yang dapat dijelaskan oleh science namun malah mempostulatkan kehadiran Tuhan sebagai pencipta yang dinilainya tanpa pendasaran yang cukup kuat. Dawkins menganggap bahwa hal tersebut adalah upaya mencari jalan keluar yang singkat dari hal-hal yang belum dapat dijelaskan oleh alam, lebih jauh menurutnya data-data serta pengetahuan yang ada sekarang sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menyimpulkan bahwa evolusionisme adalah benar dan telah berjalan dalam semesta.
Meme dan gen
Bahwa memang kerangka atheisme Dawkins telah dengan susah payah menjabarkan bagaimana semesta terbentuk dalam upaya penolakan keberadaan Tuhan sebagai sang pencipta, namun hal tersebut belum sama sekali belum dapat sama sekali menegasikan keberadaan Tuhan sebagai sebuah konsepsi yang senantiasa beredar dalam peradaban manusia. Singkatnya Dawkins sekalipun mencerca Tuhan sebagai delusi belum dapat menjawab argumen yang menyatakan bahwa ‘apabila memang Tuhan tidak ada, lalu kenapa konsepsinya bisa mengada di tengah-tengah manusia’.
Konsepsi evolusi yang selama ini memang menyediakan berbagai perangkat dalam kaitannya dengan hal ini, tidak dapat dipergunakannya apaila hanya dijawab dengan menggunakan konsepsi gen. Dimana dalam bukunya the selfish gene, gen dalam eksplanasi Dawkins menyatahan The genes too control the behaviour of their survival machines, not directly with their fingers on puppet strings, but indirectly like thecomputer programmer. All they can do is to set it up beforehand; thenthe survival machine is on its own, and the genes can only sit passively inside[10]. sebagai unsur terkecil dalam mekanisme evolusi makhluk hidup. Gen menjalankan keegoisannya dengan mempertahankan dirinya, mempertahankan diri gen dalam bentuk mereplika dirinya konsekuensinya menarik bahwa replika tersebut juga menurunkan sifat-sifat bawaan yang hereditoris. Sehingga apabila menggunakan konsepsi gen untuk menjawab maka Dawkins akan terjebak pada kesimpulan bahwa Tuhan adalah memang ada dan diturunkan oleh gen sebagai bukti ilmiahnya.
Akan tetapi Dawkins tetap bersikukuh menolak eksistensi keberadaan Tuhan sehingga satu-satunya jalan untuk menolak hal tersebut dan tetap konsisten dengan teori evolusi yang selama ini dijunjungnya adalah dengan merumuskan konsepsi tentang meme. Dimana meme berbeda dengan gen, meme memang masih dalam fungsi replikator dalam runut evolusi akan tetapi meme terikat dalam fungsi kultural bukan lagi hanya biologis seperti halnya gen.
Apa yang hendak disampaikan oleh Dawkins dengan memunculkan konsepsi meme memang masih dalam kaitannya denga menjawab problematika konsepsi Tuhan yang bisa ada dalam peradaban dan tidak mampu dijawab dengan konsepsi gen. Dengan keberadaan meme Dawkins mencoba menjawabnya, yakni konsepsi Tuhan memang mengada dalam peradaban akan tetapi hal tersebut bukanlah suatau kemungkinan mutlak realitas namun tidak lebih dari penyimpangan kultural yang bisa bertahan karena dijembatani oleh meme.
Kesimpulan
Merunut pambahasan ini dari awal jelas dapat kita simpulkan bahwa Dawkins memang memberikan sumbangsih yang besar dalam tradisi pemikiran filsafat Islam dimana ia dengan gigih mempertahankan nalar atheismenya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jelas pula bahwa nalarnya akan memunculkan konsekuensi-implikasi yang berlaku dalam ranah teoritis juga praksis. Namun dalam pembahasan ini akan difokuskan pada implikasi konseptual belaka karena penulis menganggap belum punya sukup data yang dapat menyokong analisis implikasi prakstis.
Adapaun implikasi dalam nalar Atheisme Dawkins yang paling signifikan adalah Richard Dawkins dengan segala penekanan dalam upaya eksplanasinya memang banyak menggunakan science sebagai fondasi dasarnya, dan hal itu tidak lain kembali menempatkan science sebagai oposisi agama. Science versi Dawkins menganggap bahwa agama merupakan musuh uatamanya karena memiliki kebernaran yang saling bertentangan.
Agama dan science pun kembali masuk dalam tahapan konflik dalam konsepsi relasional akannya sebagaimana dijelaskan Ian Barbou dalam bukunya juru bicara Tuhan yang menyatakan bahawa teori evolusi bertentangan dengan keyakinan beragama[11] padahal tidak selamanya agama dan science selalu bertentangan dan berada dalam konflik. Melihat dalam perkembangannya sebagaimana diterangkan Ian Barbour agama dan science sebenarnya dapat berintegrasi demi kebaikan peradaban manusia.
Kritik
Nalar atheisme Dawkins sekalipun terlihat cukup menyakinkan namun jelas juga mempunyai berbagai kekurangan . Salah satu kekurangan yang paling menonjol adalah saat ia menyatakan bahwa percaya kepada Tuhan sebagai sesuatu yang spekulatif, padahal dalam pengingkaran akan Tuhan pun Dawkins masih terjebak dalam tuduhannya sendiri itu.Dalam artian bahwa pada akhirnya banyak hal yang belum mampu dijelaskan ilmu pengetahuan secara mutlak. Sehingga memilih tidak percaya sebagai atheisme pada akhirnya malah mereduksi posibilitas lain yang sebenarnya masih beredar.
Kritisi lain yang dapat kita lakukan terhadap pemikiran nalar atheisme Dawkins adalah soal derivasi epistemologisnya yang masih begitu terpaku pada positivisme yang tidak mampu menampakan dan menjembatani realitas-realitas yang tidak terukur. Kesadaran manusia pun direduksi dengan pendasaran yang seperti itu, dimana kesadaran manusia hanya dilihan paradigma evolusionistik sebagai sebuah jaringan kedirian yang dibuat dari gerak-gerak tidak sadar molekul juga semprotan elektrokimiawi dalam otak.
Daftar Pustaka
Dawkins, Richard. 2006. The God Delusion.New South Walws: Bantam Press.
Dawkins, Richard. 2002. The Selfish Genes. Oxford University Press
Honderich, Ted (ed.).1990. The Oxford Companion to Philosophy.New York:oxford University press.
[1] Dalam acuannya pada filsafat barat yang tanpa bermaksud mereduksi tradisi pemikiran filsafat timur namun dalam kaitannya dalam pembahasan ini memang lebih relevan dalam tendensi fildafat barat.
[2] Cambridge companion hlm 21
[3] Kitab suci kaum nasrani, karena pada saat itu agama kristen merupakan agama yang paling dominan.
[4] Lihat Richard Dawkins, God Delusion hlm 22
[5] Kedua jalan ini diuraikan Dawkins sebagai dua bab terpisah dalam bukunya The God Delusion. Dimana jalan pertama adalah ekstrak dari bab kedua yang berjudul “Arguments for God’s existence” dan jalan kedua tidak lain adalah bab ketiga yang berjudul”Why there almost certainly is no God”
[6]Lihat Richard Dawkins, God Delusion(Bantam Press:2006) hlm
[7] Akibat keterbatasan ruang pembahasan, maka proposisi “spekulatif dan pada akhirnya mengada-ada” dianggap penulis sebagai kesimpulan umum akan semua rangkaian argumen dalam kategorisasi jalan kedua. Untuk lebih jelas lihat Richard Dawkin, God Delusion (Bantam Press:2006) hlm 75-105
[8] Lois Katsoff,pengantar filsafat hlm 208
[9] Harus diingat terminologi ilmiah dalam pemahaman Dawkins dibatasi dalam kerangka positistik dalam penekanan empiris,verivikasi juga reliable dan sudah pasti mereduksi kemungkinan lain di luar itu.
[10] Richard Dawkins,Selfish gene.s hlm 52