Tidak !!!.
Sosialisme tidak anti agama. Agama adalah urusan setiap pribadi dan setiap orang bebas untuk menentukan kepercayaannya, termasuk untuk tidak percaya pada suatu kepercayaan sekalipun. Sejak kecil kita sudah diajarkan di sekolah, bahwa ‘agama’ adalah hubungan paling personal antara seorang individu dengan Tuhannya, karena itu tidak ada orang yang dapat mengatur, menentukan, dan mengendalikan hubungan itu.
Yang tidak diinginkan adalah, keadaan di mana manusia menjadi diperbudak oleh agamanya. Manusia menjadi lupa tentang hidupnya sebagai manusia di bumi, lupa akan permasalahan sosial yang melanda kehidupannya dan kehidupan sesamanya, dan hanya ingat untuk mengejar surga. Akibatnya seseorang menjadi pasifis, seseorang tidak peduli pada keadaan sosialnya, masyarakat menjadi semakin mudah dieksploitasi oleh orang-orang yang berkuasa secara politik dan ekonomi.
Karl Marx mengatakan bahwa agama adalah candu masyarakat, Marx juga mengatakan agama adalah keluhan para mahluk tertindas. Di sinilah hal ini berlaku. Agama menjadi semacam penghiburan bagi masyarakat yang tertindas oleh sistem, menjadi pelarian dan pelampiasan segala beban kehidupan yang dihasilkan dari penindasan secara ekonomi dan politik. Tetapi candu ini menjadi berbahaya ketika manusia semakin larut berputar-putar di dalamnya, manusia melupakan permasalahan sebenarnya bahwa masyarakat tertindas oleh sistem, dan cenderung terus menerus berkutat di permasalahan surga-neraka.
Dalam beberapa kasus, masyarakat bukan hanya larut dalam urusan surga-neraka, melainkan menjadi fanatik terhadap agamanya. Muncul kebencian terhadap kepercayaan lain, bahkan mewujudkan kebencian itu dalam tindakan nyata. Hal ini semakin menguntungkan pihak penguasa politik dan ekonomi. Fanatisme bahkan dapat digunakan dengan sengaja oleh penguasa untuk menciptakan konflik antar kepercayaan. Masyarakat tertindas semakin larut dalam urusan agama dan tidak lagi peduli pada kehidupan nyata dan permasalahan-permasalahan sosialnya, dan kemudian mereka menjadi terpecah belah berdasarkan agama. Semakin jauh dari usaha untuk memperbaiki kehidupan sosial, apalagi usaha untuk merombak sistem penindas.
Karena itu masyarakat harus dibangunkan dari tidur panjangnya. Setiap orang bebas beragama, tetapi setiap orang juga harus memperjuangkan kehidupan nyatanya yang benar-benar ada di depan mata saat ini: Memperjuangkan kehidupan yang lebih baik, membongkar sistem penindasan yang sekarang berkuasa.
Apakah Sosialisme Mempunyai Moralitas?
Tentu saja.
Agama adalah sumber standar moralitas yang utama, alat penentu kebaikan dan kebenaran pada masyarakat kita. Baik, benar, atau salah ditentukan dengan membandingkannya dengan apa yang dikatakan oleh agama, apa yang dikatakan oleh tokoh-tokoh agama, apa yang tertulis dalam buku-buku agama.
Tetapi moralitas agama tidak akan mungkin berlaku benar-benar universal pada kehidupan manusia karena ada berbagai macam agama dan tiap agama memiliki standar-standar moralitasnya masing-masing, yang walaupun masih ada titik temunya tetap akan terdapat perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Tidak mungkin dan tidak adil untuk menilai benar atau salah perbuatan seorang beragama A dengan standar moralitas agama B.
Lebih lagi, di masa sekarang, seringkali agama telah digunakan oleh pihak yang berkuasa sebagai tameng, sebagai alat pengekang, dan sebagai alat pemecah-belah untuk melemahkan perjuangan sosial kelas tertindas, membuat mereka terbuai mimpi indah surgawi setelah mati nanti. Orang yang melawan dan memberontak terhadap penguasa dikatakan tidak bermoral dan dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama yang mengajarkan manusia harus selalu bisa menerima keadaan, menerima takdir, dan menganggap kesulitan hidup sebagai cobaan dari Tuhan.
Moral dan tolak ukur kebaikan dan kebenaran telah ditentukan oleh penguasa. Apa-apa yang dapat membahayakan penguasa adalah tidak bermoral, jahat, dan salah; sementara apa yang mendukung dan memperkuat posisi penguasa adalah bermoral, baik, dan benar. Standar moral yang ‘gila’ seperti ini tidak dapat terus menerus digunakan jika manusia memang ingin melepaskan diri dari lingkaran setan penindasan dan eksploitasi.
Karena itu sosialisme-komunisme meletakkan standar moralnya bukan kepada agama, tetapi kepada kemanusiaan itu sendiri.
Adalah tidak bermoral untuk merampas hasil pekerjaan orang lain. Adalah tidak bermoral untuk mengeksploitasi nafsu konsumerisme orang lain, menindas pemikiran dan perjuangan, menggusur tempat hidup dan tempat mencari nafkah, membunuh orang lain. Adalah tidak bermoral untuk mendiskriminasi orang lain berdasarkan jenis kelamin, ras, dan agama. Adalah tidak bermoral untuk mempekerjakan buruh di bawah umur. Adalah tidak bermoral untuk menekan upah buruh seminim mungkin dan memecat mereka demi mencapai profit tertinggi. Adalah tidak bermoral untuk menempatkan PROFIT di atas KEMANUSIAAN. Dan lain-lain.
Itu adalah contoh-contoh moralitas dalam sosialisme. Kita mempunyai moral, yang tampaknya jauh lebih bermoral (bahkan bertolak belakang) dari standar moral para kapitalis.
Kaum kapitalis adalah pengguna standar ganda. Mereka menggunakan standar moral yang tinggi sekali – bahkan menggunakan standar moral agama – ketika menilai perbuatan manusia pada umumnya. Karena itu perbuatan menentang penguasa, ide untuk merombak dan memberontak dari keadaan hidup yang sulit dan melarat mereka anggap sebagai salah, tidak baik, dan tidak bermoral.
Tetapi sementara itu mereka akan menggunakan standar moral lain lagi ketika segala perbuatan-perbuatan tidak bermoral mereka mulai disinggung (penghisapan, penindasan, eksploitasi, dan berbagai macam hal yang dilakukan oleh kaum kapitalis terhadap kelas pekerja dan masyarakat melarat). Dalam membela tindakan tidak bermoral yang dilakukannya, kapitalis menggunakan dalih-dalih semacam “merampok atau dirampok”, “makan atau dimakan”, “hukum alam”, “yang kuat yang menang”, “hidup itu keras”, dan berbagai macam dalih dan alasan lainnya.
Tetapi kita – kaum sosialis – menjawab: “Bukankah akan lebih baik kalau manusia dapat hidup bersama-sama dalam kesetaraan? Mengolah alam ini bukan untuk profit segelintir orang, melainkan untuk pemenuhan keperluan dan kebutuhan bersama-sama? Mengambil dari tiap orang sesuai kemampuannya dan memberikan kepada setiap orang sesuai keperluannya?” Bukankah lebih baik kalau tidak perlu ada yang merampok dan dirampok? Bukankah lebih baik kalau dunia ini diabdikan bukan untuk profit, melainkan untuk kemanusiaan
Libido Ergo Sum
“Manfaat hidup yang terbesar adalah menggunakannya untuk sesuatu yang akan membuatnya berlangsung lebih lama.”
(William James)
(William James)
Energi seksual (libido) tidak bisa diingkari, ditolak, atau ditekan sebagaimana mata air yang terus melimpah juga membutuhkan sungai untuk mengalirkannya. Sebagaimana energi bisa diubah dari bentuk yang satu ke yang lain, energi seksual pun bisa diubah ke bentuk-bentuk lain. Perubahan energi seksual menjadi aktivitas aktivitas yang lebih bernilai sering disebut sublimasi. Menurut teori psikoanalisis,
hasil-hasil yang dicapai kebudayaan manusia pun tak bisa lepas dari proses sublimasi karena ada norma dan moral yang membatasi manusia untuk bisa mengumbar energi seksualnya. Bagi kaum remaja dan mereka yang belum menikah, perlu kiranya melatih diri untuk melakukan sublimasi agar energi seksual yang sedang menggelora bisa tersalurkan dalam aktivitas-aktivitas yang bernilai.
Aktivitas Seni
Sesungguhnya setiap manusia terlahir sebagai seniman, bahkan manusia itu sendiri merupakan mahakarya (masterpiece) Sang Seniman Tertinggi. Persoalannya hanya bakat seni itu kurang dikenali dan ditumbuhkan dalam diri dengan alasan tidak berjiwa seni. Tubuhmu memiliki 200 tulang yang bentuknya berbeda-beda dan berfungsi secara menakjubkan. Mesin pompa tercanggih adalah jantung yang berdenyut nonstop 36 juta kali setahun dengan risiko kerusakan sangat kecil. Otak memiliki satu triliun sel, dengan kemampuan satu sel setara dengan satu PC. Jelas, tubuhmu sudah disiapkan: apakah mau menjadi seniman atau ilmuwan, terserah dirimu. Dengan potensi seni yang dimiliki setiap manusia, kau pun bisa melakukan sublimasi energi seksual ke dalam aktivitas-aktivitas seni. Cobalah pilih satu bidang seni, dan pusatkan perhatianmu untuk melatih dan menggumulinya: musik, drama, puisi, lukis, patung, dll. Seni berhubungan erat dengan perasaan terdalam maka dengan seni kau pun melatih diri untuk memiliki kehalusan dan kepekaan perasaan. Seni memberi kepuasan batin yang melampaui kepuasan yang didapat melalui seks maka dengan seni kau mampu mengendalikan dorongan seksual dan mendapat ganti yang tak kalah nikmat.
Aktivitas Seni
Sesungguhnya setiap manusia terlahir sebagai seniman, bahkan manusia itu sendiri merupakan mahakarya (masterpiece) Sang Seniman Tertinggi. Persoalannya hanya bakat seni itu kurang dikenali dan ditumbuhkan dalam diri dengan alasan tidak berjiwa seni. Tubuhmu memiliki 200 tulang yang bentuknya berbeda-beda dan berfungsi secara menakjubkan. Mesin pompa tercanggih adalah jantung yang berdenyut nonstop 36 juta kali setahun dengan risiko kerusakan sangat kecil. Otak memiliki satu triliun sel, dengan kemampuan satu sel setara dengan satu PC. Jelas, tubuhmu sudah disiapkan: apakah mau menjadi seniman atau ilmuwan, terserah dirimu. Dengan potensi seni yang dimiliki setiap manusia, kau pun bisa melakukan sublimasi energi seksual ke dalam aktivitas-aktivitas seni. Cobalah pilih satu bidang seni, dan pusatkan perhatianmu untuk melatih dan menggumulinya: musik, drama, puisi, lukis, patung, dll. Seni berhubungan erat dengan perasaan terdalam maka dengan seni kau pun melatih diri untuk memiliki kehalusan dan kepekaan perasaan. Seni memberi kepuasan batin yang melampaui kepuasan yang didapat melalui seks maka dengan seni kau mampu mengendalikan dorongan seksual dan mendapat ganti yang tak kalah nikmat.
Aktivitas Fisik
Energi seksual lebih banyak bersifat psikis dan kimiawi maka melatih fisik dengan aktivitas-aktivitas lain seperti olahraga, tari, fitness, dll bisa menjadi sublimasi. Apalagi aktivitas fisik yang bersifat memenangkan atau menaklukkan sangat cocok sebagai bentuk sublimasi laki-laki karena serupa dengan karakter seksual laki-laki. Tari dan senam lebih pas dengan ritme seksual perempuan yang tidak meledak-ledak dan melibatkan seluruh tubuh. Dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur dan konsisten, bukan hanya tubuh yang sehat, tetapi kehidupan seksualmu pun lebih sehat dan terkontrol. Ingatlah, pasangan yang memiliki tingkat kepuasan seksual yang tinggi justru mereka yang mampu mengontrol dan mengendalikan nafsunya.
Energi seksual lebih banyak bersifat psikis dan kimiawi maka melatih fisik dengan aktivitas-aktivitas lain seperti olahraga, tari, fitness, dll bisa menjadi sublimasi. Apalagi aktivitas fisik yang bersifat memenangkan atau menaklukkan sangat cocok sebagai bentuk sublimasi laki-laki karena serupa dengan karakter seksual laki-laki. Tari dan senam lebih pas dengan ritme seksual perempuan yang tidak meledak-ledak dan melibatkan seluruh tubuh. Dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur dan konsisten, bukan hanya tubuh yang sehat, tetapi kehidupan seksualmu pun lebih sehat dan terkontrol. Ingatlah, pasangan yang memiliki tingkat kepuasan seksual yang tinggi justru mereka yang mampu mengontrol dan mengendalikan nafsunya.
Memiliki Hobi
Menyedihkan sekali kalau orang tidak memiliki hobi atau kesukaan tertentu karena hobi adalah kesempatan untuk melakukan aktivitas tanpa terpaksa, bahkan tanpa target dan tujuan yang pasti. Energi seksual pun akan tersalur melalui hobi karena ketika orang sedang asyik dengan hobinya, ia bisa ekstase dalam arti lupa akan hal-hal yang lain, termasuk dorongan seksualnya. Ketika kau sedang melakukan hobi, lakukan dengan sepenuh hati tanpa menghitung untung dan rugi karena kau sedang memuaskan dorongan ego secara positif. Jika dibandingkan dengan aktivitas seksual, melakukan hobi serupa dengan onani (memuaskan dorongan seksual dengan diri sendiri), namun dalam tingkat yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, penting bagi setiap remaja dan pemuda untuk punya hobi tertentu agar libido bisa dialihkan atau dipuaskan ketika sedang asyik dengan hobinya.
Menyedihkan sekali kalau orang tidak memiliki hobi atau kesukaan tertentu karena hobi adalah kesempatan untuk melakukan aktivitas tanpa terpaksa, bahkan tanpa target dan tujuan yang pasti. Energi seksual pun akan tersalur melalui hobi karena ketika orang sedang asyik dengan hobinya, ia bisa ekstase dalam arti lupa akan hal-hal yang lain, termasuk dorongan seksualnya. Ketika kau sedang melakukan hobi, lakukan dengan sepenuh hati tanpa menghitung untung dan rugi karena kau sedang memuaskan dorongan ego secara positif. Jika dibandingkan dengan aktivitas seksual, melakukan hobi serupa dengan onani (memuaskan dorongan seksual dengan diri sendiri), namun dalam tingkat yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, penting bagi setiap remaja dan pemuda untuk punya hobi tertentu agar libido bisa dialihkan atau dipuaskan ketika sedang asyik dengan hobinya.
Aktivitas intelektual
Bentuk sublimasi itu secara tidak sadar sudah kaulakukan ketika sedang tekun belajar di sekolah, hanya saja kegiatan belajar yang dilakukan secara terpaksa kurang efektif sebagai jalan sublimasi. Mempelajari sesuatu karena didorong rasa ingin tahu dan merasakan keasyikan dan kepuasan akan menjadi sublimasi yang efektif. Oleh sebab itu, situasi dan suasana belajar mengajar yang berlangsung di kelas yang mengesankan, menyenangkan sekaligus menantang juga bisa menjadi bentuk sublimasi yang baik. Aktivitas intelektual yang paling efektif untuk sublimasi, adalah membaca apa pun yang kau baca asalkan bukan bacaan yang mengekplotasi seks atau pornografi. Membaca membuat sel-sel otak aktif dan berkembang sehingga libido tak menguasai. Andai saja minat baca para muda cukup tinggi, buku-buku bisa didapat dengan mudah, maka persoalan-persoalan yang menyangkut kehidupan seksual mereka akan mendapat penyaluran yang efektif.
Bentuk sublimasi itu secara tidak sadar sudah kaulakukan ketika sedang tekun belajar di sekolah, hanya saja kegiatan belajar yang dilakukan secara terpaksa kurang efektif sebagai jalan sublimasi. Mempelajari sesuatu karena didorong rasa ingin tahu dan merasakan keasyikan dan kepuasan akan menjadi sublimasi yang efektif. Oleh sebab itu, situasi dan suasana belajar mengajar yang berlangsung di kelas yang mengesankan, menyenangkan sekaligus menantang juga bisa menjadi bentuk sublimasi yang baik. Aktivitas intelektual yang paling efektif untuk sublimasi, adalah membaca apa pun yang kau baca asalkan bukan bacaan yang mengekplotasi seks atau pornografi. Membaca membuat sel-sel otak aktif dan berkembang sehingga libido tak menguasai. Andai saja minat baca para muda cukup tinggi, buku-buku bisa didapat dengan mudah, maka persoalan-persoalan yang menyangkut kehidupan seksual mereka akan mendapat penyaluran yang efektif.
Aktivitas sosial
Mengalihkan perhatian pada kebutuhan orang lain atau kebutuhan bersama bisa menjadi sublimasi yang baik. Seks selalu egois, artinya terpusat pada kepuasan diri sendiri walaupun melibatkan orang lain. Seks tidak pernah untuk memuaskan orang lain, sebaliknya dengan aktivitas sosial kita melatih diri untuk membalikkan arah, yakni tertuju pada kepentingan orang lain. Kepuasan yang didapat melalui aktivitas sosial tingkatannya lebih tinggi daripada kepuasan yang didapat melalui dorongan seksual. Menjadi aktivis untuk kepentingan masyarakat banyak, atau gerakan kepedulian terhadap persoalan-persoalan masyarakat, akan menjadi sublimasi yang sangat bermanfaat. Terlibat dalam organisasi atau kepanitiaan juga bisa menjadi pengubah libido yang baik.
Mengalihkan perhatian pada kebutuhan orang lain atau kebutuhan bersama bisa menjadi sublimasi yang baik. Seks selalu egois, artinya terpusat pada kepuasan diri sendiri walaupun melibatkan orang lain. Seks tidak pernah untuk memuaskan orang lain, sebaliknya dengan aktivitas sosial kita melatih diri untuk membalikkan arah, yakni tertuju pada kepentingan orang lain. Kepuasan yang didapat melalui aktivitas sosial tingkatannya lebih tinggi daripada kepuasan yang didapat melalui dorongan seksual. Menjadi aktivis untuk kepentingan masyarakat banyak, atau gerakan kepedulian terhadap persoalan-persoalan masyarakat, akan menjadi sublimasi yang sangat bermanfaat. Terlibat dalam organisasi atau kepanitiaan juga bisa menjadi pengubah libido yang baik.
Aktivitas Spiritual
Manusia bukan sekadar makhluk yang berdimensi fisik dan psikis, namun juga spiritual. Artinya, di atas segala potensi yang dimilikinya, ada kekuatan tertinggi dalam dirinya, yakni ROH. Keberadaan Roh (Spirit) itu mesti terus-menerus disadari dan ditumbuhkan sehingga mampu menguasai pikiran dan perilaku kita. Akhirnya, tubuh kita bisa menyatu dengan roh. Aktivitas spiritual seperti berdoa, meditasi, refleksi atas keberadaan kita di alam semesta, di hadapan Sang Pencipta, akan melampaui desakan-desakan tubuh sekuat apa pun.
Manusia bukan sekadar makhluk yang berdimensi fisik dan psikis, namun juga spiritual. Artinya, di atas segala potensi yang dimilikinya, ada kekuatan tertinggi dalam dirinya, yakni ROH. Keberadaan Roh (Spirit) itu mesti terus-menerus disadari dan ditumbuhkan sehingga mampu menguasai pikiran dan perilaku kita. Akhirnya, tubuh kita bisa menyatu dengan roh. Aktivitas spiritual seperti berdoa, meditasi, refleksi atas keberadaan kita di alam semesta, di hadapan Sang Pencipta, akan melampaui desakan-desakan tubuh sekuat apa pun.
Latihan:
1. Apakah kau memiliki bentuk-bentuk sublimasi seperti di atas? Sekarang sadari bahwa hal itu akan membantu berdamai dengan libido.
2. Jika selama ini kau tidak memiliki bentuk sublimasi, cobalah pilih bentuk apa yang akan kaulakukan.
3. Sadari (jangan anggap remeh) bahwa dorongan seksual yang ada dalam dirimu begitu kuat, seperti mata air yang terus melimpahkan air. Salurkan melalui sublimasi.
1. Apakah kau memiliki bentuk-bentuk sublimasi seperti di atas? Sekarang sadari bahwa hal itu akan membantu berdamai dengan libido.
2. Jika selama ini kau tidak memiliki bentuk sublimasi, cobalah pilih bentuk apa yang akan kaulakukan.
3. Sadari (jangan anggap remeh) bahwa dorongan seksual yang ada dalam dirimu begitu kuat, seperti mata air yang terus melimpahkan air. Salurkan melalui sublimasi.
Mantra:
Aku mampu menyalurkan
Dorongan libidoku sekuat apa pun
Libido bukan musuh atau ancaman
Melainkan kekuatan yang harus diarahkan
Dan aku pasti bisa
(Smart Sex)
Aku mampu menyalurkan
Dorongan libidoku sekuat apa pun
Libido bukan musuh atau ancaman
Melainkan kekuatan yang harus diarahkan
Dan aku pasti bisa
(Smart Sex)
Fallacy Devision
Kebalikan dari fallacy of composition, fallacy of division adalah kesesatan ketika kamu mengira bahwa setidaknya ada satu komponen yang bersifat seperti itu.
- Bentuk
- X terdiri dari x1, x2, … xn X bersifat p ∴ x1, x2, … xn setidaknya ada satu yang bersifat p.
- Paduan suara itu bagus sekali. Pasti ada setidaknya satu orang yang ahli.
- Johan tinggal di rumah yang besar sekali. Enak ya. Kamarnya pasti luas.
Mungkin kamu agak sukar membedakan antara kedua fallacy di atas dengan kesesatan generalisasi. Perbedaan utamanya adalah, kesesatan generalisasi menekankan pada masalah populasi, sedangkan kedua kesesatan di atas menekankan pada komponen yang menyusun sesuatu.
Fallacy of Compisition
Heri- Siapa aja yang akan main nanti?
- Yoyok
- Ada Boni yang pintar main bass. Jono yang pintar main keyboard, ada juga Hendri yang pintar main drum. Semuanya orang-orang pintar dan paling jago di sekolah. Pasti akan jadi band yang hebat!
Betulkah? Seringkali kita melakukan kesalahan semacam itu. Kesalahan ini disebutfallacy of composition, yaitu ketika kita mengira bahwa sifat keseluruhan adalah seperti sifat bagian-bagiannya.
- Bentuk
- X terdiri dari x1, x2, … xn x1, x2, … xn sebagian besar atau seluruhnya bersifat p ∴ X pasti bersifat p
Kalau kamu kurang setuju dalam contoh di atas, pertimbangkan contoh berikut:
- Susu rasanya enak. Coklat rasanya enak. Ayam bakar rasanya enak juga. Mangga juga enak. Sambal terasi enak juga, lho. Mari kita buat masakan super enak dengan mencampur susu, coklat, ayam bakar, mangga, dan sambal menjadi satu. Pasti uenak!
Fallacies - Akibat Keterbatasan Bahasa
Setiap kalimat yang kita ucapkan adalah berasal dari pikiran kita. Tetapi karena keterbatasan bahasa yang kita gunakan, juga kesulitan kita dalam mengutarakan sesuatu, maka seringkali yang orang lain mengerti berbeda dengan yang kita maksudkan.
Ekuivokasi
Ekuivokasi
Kesesatan ekuivokasi terjadi ketika kamu menggunakan kata yang sama untuk dua maksud yang berbeda.
Kemarin ketika hari belum malam1 saya bermain malam2.
“Malam” yang pertama artinya malam hari, sedangkan “malam” yang kedua artinya mainan serupa lilin yang bisa dibentuk macam-macam.
Biasanya ekuivokasi yang dikatakan oleh dua orang dapat menjadi perdebatan konyol yang tak dapat diselesaikan.
- Bomi
- Agar sukses, kita harus menjadi orang yang bermimpi.
- Mila
- Mana bisa, kalau bermimpi artinya tidak berbuat apa-apa.
- Bomi
- Justru dengan bermimpi, kita akan terpacu untuk mencapai mimpi itu, sehingga kita bekerja keras.
- Mila
- Kalau orang lagi mimpi, sudah jelas dia nggak bisa ngapa-ngapain, ya jelas dia nggak mungkin kerja keras, goblok!
Ini perdebatan yang bodoh. Bomi dan Mila berdebat tentang “mimpi”, sementara “mimpi” yang dimaksud Bomi dengan “mimpi” yang dimaksud Mila berbeda. Yang dimaksudkan Bomi adalah cita-cita, sementara yang dimaksudkan Mila adalah mimpi ketika tidur.
Perdebatan semacam ini sering terjadi. Karena itu sebelum perdebatan dimulai, sepakatilah dahulu definisi-definisi istilah yang akan dipakai.
Amfiboli
Berbeda dengan ekuivokasi, kalau kamu mengatakan sesuatu yang bisa ditafsirkan berbeda-beda (ambigu), itu akan bisa memunculkan kesimpulan yang jauh dari yang kamu harapkan. Ini disebut kesesatan amfiboli.- Bentuk
- Si x mengatakan P Si y mengira P adalah P’ ∴ P’ dan bukan P
Marilah kita menghapuskan semua peraturan sekolah yang tidak berguna itu.
Apa yang akan dihapuskan? Semua peraturan sekolah? Atau hanya peraturan sekolah yang tidak berguna? Atau peraturan dari sebuah sekolah yang tidak berguna?
Suatu ketika, Croesus, raja Lydia, ingin menaklukkan Cyrus, raja Persia. Ia berkonsultasi dengan seorang peramal terkenal di Delphi. Sang peramal mengatakan, “Kalau Croesus melawan Cyrus, sebuah tentara besar akan dihancurkan!” Setelah ia melawan Cyrus, ternyata tentaranya hancur semua. Ia telah menarik kesimpulan yang salah.
Fallacies - Kesesatan Pola Pikir
- Papa
- Budi, Mulai besok kamu tidak boleh main basket lagi.
- Budi
- Lho! Kenapa Pa?
- Papa
- Papa lihat nilaimu belakangan mulai turun. Kamu terlalu banyak main basket.
- Budi
- Pa, saya main basket cuma seminggu dua kali. Seminggu ini memang saya hampir tiap hari main, tetapi itu kan karena minggu depan mau lomba. Nilai saya turun kan sudah dari sebulan yang lalu.
- Papa
- Pokoknya kamu nggak boleh main basket lagi!
Pembicaraan yang tidak asing di telingamu?
Hoho. Papanya Budi – seperti halnya papa-papa yang lain – telah melakukan kesalahan logika yang beliau tidak sadari. Papanya Budi menghubung-hubungkan antara nilai yang turun dengan main basket. Padahal belum tentu ada hubungan, bukan?
Kesalahan-kesalahan seperti itu disebut fallacies atau kesesatan dalam penalaran. Fallacies adalah penalaran-penalaran yang sering seolah-olah benar, tetapi sering juga ternyata mengandung kesalahan yang sangat serius. Karena kedengarannya seperti benar, maka kita pun tidak menyadari bahwa itu salah.
Di bawah ini kamu akan mendapati daftar kesesatan-kesesatan yang umum dibuat ketika orang menalar. Sebenarnya ada banyak sekali kesesatan yang mungkin dibuat orang, tetapi hanya sebagian kecil yang dapat ditulis di sini. Tidak semua kesesatan merupakan hal yang pasti salah. Kadang-kadang bisa memunculkan kesimpulan yang benar, kadang-kadang salah. Juga, tidak berarti kita harus mutlak menghindari kesesatan. Mengapa? Karena pengetahuan kita terbatas. Contohnya, percaya bahwa “saya adalah anak ibu saya” sering hanya berdasarkan kepercayaan terhadap kata-kata orang tua, atau hanya berdasarkan rasa sayang terhadap ibu. Ini adalah sebuah fallacy, tetapi cukup baik untuk dipakai. Kita tidak mungkin menghindari fallacy sama sekali.
Kesesatan Generalisasi
- Anton
- Semua orang pasti suka kalau diberi uang.
- Badi
- Kok tahu? Kamu sudah tanya semua orang?
- Anton
- Belum.
- Badi
- Lha kok tahu?
- Anton
- Tahu dong. Dari saya kecil sampai hari ini, setiap orang yang saya temui suka kalau diberi uang.
- Badi
- Kamu sudah ketemu semua orang? Kan belum.
- Anton
- Memang belum. Tapi saya pikir semua orang pasti seperti itu juga.
Banyak sekali kepercayaan kita yang sebenarnya adalah hasil dari penalaran semacam itu. Penalaran semacam itu disebut sebagai generalisasi. Generalisasi artinya, kita menyimpulkan sifat keseluruhan berdasarkan sifat sebagian saja.
Misalnya, kamu bisa yakin bahwa semua kuda pasti suaranya meringkik. Mengapa? Karena selama ini kuda yang kamu dengar suaranya meringkik. Jadi penalaranmu berbentuk:
Waktu itu saya dengar kuda suaranya meringkik.
Di waktu yang lain juga.
Di waktu yang lain lagi juga.
Berarti semua kuda suaranya meringkik. (generalisasi)
Di waktu yang lain juga.
Di waktu yang lain lagi juga.
Berarti semua kuda suaranya meringkik. (generalisasi)
Lho, bukankah ini belum tentu benar? Memang belum tentu benar. Tetapi karena keterbatasan kemampuan kita (kamu tidak mungkin mengamati semua kuda di dunia), maka menarik kesimpulan dengan cara seperti ini masih oke-oke saja, dengan beberapa pertimbangan tertentu.
Pertimbangan apa? Pertama, banyaknya pengamatan yang kamu buat haruslah cukup besar (tidak perlu sampai semuanya, yang penting cukup besar). Yang kedua, pengamatan yang kamu buat tidak boleh bias. Ini akan dijelaskan kemudian.
Nah, ketika kamu tidak hati-hati, kamu bisa tidak jatuh dalam kesesatan-kesesatan berikut ini.



