Powered By Blogger

Profile

Foto saya
Just the notes to make my mind development as a journal.

Jangan cintai Agama Islam

| Senin, 10 Januari 2011 | 0 komentar |
sobat PAI. Community,
Tidak. Saya tidak pernah mencintai agama Islam. Sudah dari dulu. Tidak pernah saya betah tinggal dalam agama Islam. Sumpek. Tidak menggairahkan. Karena Agama Islam buatan manusia. Hasil kebudayaan manusia.

Saya hanya mencintai ISLAM. Ini pasti. Tidak terbantah.

Untuk AGAMA ISLAM tidak. Bagi saya ini dua hal yang berbeda. 

ISLAM bagi saya nilai-nilai Universal Kehiduapan. Makanya disebut cocok sepanjang zaman. Mana ada yang cocok melampaui ruang dan waktu jika itu bukan nilai-nilai Universal. Asal tidak cocok, tidak menyentuh, tidak menggairahkan? Bagi saya itu bukan ISLAM.

Termasuk jika umat agama lain menjadi tidak tertarik, mual, males, apalagi muntah mendengar sajian dakwah, bagi saya karena yang didakwahkan itu bukan ISLAM. Itu baru AGAMA ISLAM. Makanya banyak orang tidak tertarik. Agama itu mirip dengan karoseri mobil. Rangka luar. Tidak semua orang suka tampilannya. Tapi mesinnya? Hanya orang bodoh yang menolak mesin mobil jika dia memang butuh mobil.

ISLAM milik semua manusia. Lintas agama. Karena ISLAM itu natur. Sudah konsekwensi alam dan kehidupan. Dalam pengertian inilah ISLAM disebut benar dan sempurna.
Tapi AGAMA ISLAM? Tidak sempurna. Dia temporal. Relatif kondisional. Milik orang ARAB, TRADISI, dan para PEMUJA TRADISI hingga kini.
Tapi yang mau mencintai AGAMA ISLAM juga silahkan. Itu hak mereka.

Diambil dari: http://agama.kompasiana.com/2011/01/09/mencintai-agama-islam-tidak/

Islam Hancur

| | 0 komentar |
sobat PAI. Community,
Banyak umat Islam begitu cemas Islam akan dihancurkan oleh umat agama lain. Sehingga umat Islam begitu sibuk memasang helm pengaman. Atau dengan kata lain mereka cendrung pasang muka masam pada umat agama lain. Bahkan memasang pagar pluralitasnya tinggi-tinggi. Seakan-akan dunia adalah milik mereka sendiri. Tapi bagi saya itu keliru.

Umat agama lain hanya bisa membunuh umat Islam. Tapi Islam itu sendiri tidak akan terusik. Kenapa? Karena Islam itu adalah nilai-nilai. Nilai-nilai Universal Kehidupan. Ini jika Islam dipahami sebagai rahmatan lil alamin. Sebagai rahmat bagi manusia dimana dan kapan saja. Bahkan bagi seisi alam. Tidak mungkin sebuah nilai yang tidak Univiersal akan cocok melintasi batas ruang dan waktu. Apalagi juga cocok untuk alam.

Karena itulah Islam tidak bisa dihancurkan. Islam itu sudah inklud dalam pranata alam dan kehidupan.  Sebuah sistem yang abstrak universal. Tinggal pada manusia mau atau tidak mengakses nilai-nilai itu untuk kehidupannya. Jadi siapa yang akan bisa menghancurkannya?

Yang sangat gampang dihancurkan adalah agama Islam. Bukan Islam. Apalagi umat Islam.  Kalau untuk menghancurkan umat Islam sangat mudah. Tinggal bunuh saja maka umat Islam itu akan hancur. Itu sebabnya saya tidak risih ada umat agama lain dan siapa saja yang mengkritik, menghina dan menjungkirbalikan Islam. Coba saja kalau bisa. Bahkan saya lebih suka mengajak mari berlomba-lomba kita menghina Islam. Coba saja kalau bisa.

Bagi saya, yang mereka hina, yang mereka jungkirbalikan sesungguhnya bukanlah Islam. Tapi adalah dirinya sendiri. Pantulan dari pikirannya sendiri. Karena itu umat Islam yang ngotot merasa jadi pahlawan Islam bagi saya salah kaprah. Umat Islam yang heroik membela Islam bagi saya adalah orang yang kesurupan.

Yang mereka perjuangkan sesungguhnya bukanlah Islam. Tapi adalah ketidaktahuannya tentang Islam. Islam yang dipahaminya adalah egonya sendiri. Nafsu kebodohannya sendiri.

Diambil dari: http://agama.kompasiana.com/2011/01/08/mari-hancurkan-islam-kalau/

Kebebasan Beragama di Jawa Timur Masih Suram

| | 0 komentar |
sobat PAI. Community,
SURABAYA - Di tahun 2010, kebebasan beragama di Jawa Timur rupanya masih buram. Hal itu terlihat banyaknya kekerasan terhadap pemeluk agama lain.

Menurut catatan Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD), sedikitnya ada delapan kasus pada tahun 2010 yang mewarnai perjalanan kebebasan beragama di Jawa Timur.

Aan Anshori, Kordinator JIAD Jatim merinci, pada bulan April di Pemkab Gresik menghentikan paksa pembangunan dua buah gereja, yakni Gereja Katholik Indonesia dan Gereja Kristen Bethany Indonesia, di komplek Perumahan Kota Baru Driyorejo Kecamatan Driyorejo. Alasannya, berdirinya dua gereja itu belum memenuhi syarat administratif, dan syarat teknis.

Kemudian pada bulan Juni, di Bojonegero terdapat penolakan Gereja Bethani. Tak hanya itu, di Kota Mojokerto, pemerintah setempat menodai kebebasan beragama dengan cara menyegel tiga tempat ibadah yang dianggap illegal yakni Saba, Jimbaran dan Niaga Square, kejadian ini pada bulan September.

Di bulan yang sama, di Kabupaten Malang, banyak tempat ibadah umat Kristen yang terancam ditertibkan. Ironisnya, penertiban itu merupakan rekomendasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Malang. Selain itu di Surabaya, Gereja Allah di Margorejo ditolak warga, namun pemerintah setempat tidak melakukan tindakan apapun.

"Disusul di Kabupaten Jombang, banyak gereja mengeluh sulitnya perizinan, hampir 80 persen belum mendpatkan izin meski ada yang sudah mengurus sampai empat tahun, salah satunya Gereja Bethel Diaspora dan Gereja Masa depan Cerah)." terang Aan kepada okezone, Rabu (05/01/2011).

Kemudian di Sidoarjo, warga menolak keberadaan rumah yang biasa digunakan kebaktian di perumahan Kemiri Indah Sidoarjo. Pemkab setempat tidak memberikan solusi terhadap kaum yang hendak beribadah itu.

Sementara di Kota Batu, Malang, terjadi pelarangan pendirian sekolah anak cacat yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) Malang. Alasannya, pendirian sekolah tersebut adalah bentuk Kristenisasi.

Oleh karena itu, katanya, JIAD Jatim mendesak kepada kepada pemerintahan SBY agar tidak mengabaikan konstitusi yang menjamin hak kebebasan beragama di Indonesia. Banyaknya kekerasan ini, kata Aan, Pemprov Jatim telah gagal melindungi hak-hak warganya.

"Ini membuktikan duet Karwo-Saiful (Sukarwo, Gubernur-Saifulloh Yusuf, Wakil Gubernur Jatim-red) telah gagal menjamin hak dasar kelompok Kristen," tandasnya.

Diambil dari : http://news.okezone.com/read/2011/01/05/340/410590/kebebasan-beragama-di-jawa-timur-masih-suram

Beragama secara personal dan publik

| | 1 komentar |
Sobat PAI. Community,
Agama adalah sebuah tuntunan atau ajaran yang dijalani oleh manusia, yang juga menghendaki kapada para penganutnya untuk meyakini sesuatu yang absolut (Tuhan), meyakini dan melaksanakan doktrin-doktrin yang menjadi identitas suatu Agama.
Fungsi Agama secara hakiki adalah sebagai etika manusia dalam menjalani kehidupannya, baik kepada Tuhannya maupun kepada sesamanya.

Secara mendasar, manusia memiliki dua peran. yakni:
1. sebagai Hamba Tuhan
2. sebagai Makhluq sosial (Khalifah di bumi)

Perwujudan Agama kepada Tuhan (manusia sebagai hamba Tuhan) adalah menyangkut hubungan spiritual seorang yang beragama terhadap Tuhannya. karena dalam Agama telah dijelaskan bagaimana kita mengenal Tuhan, semisal dalam Agama Islam seperti ajaran Tauhid, dalam Agama Kristen seperti Trinitas dan lain-lain. Termasuk juga di dalamnya adalah berbagai praktek agama atau ritual keagamaan, sebagai deklarasi Agama seseorang kepada Tuhannya, bisa dikatakan sebagai "Hablu min Allah". dalam ranah ini agama bersifat personal, subjektif dan relatif, tergantung individu masing-masing yang menjalaninya.

Sedangkan Perwujudan Agama kepada sesamanya (manusia sebagai makhluq sosial) adalah moral dalam bermasyarakat, karena dalam Agama sendiri diajarkan tatanan nilai yang harus dijunjung tinggi sebagai pedoman hidup bermasyarakat. sebagaimana dalam Islam dikenal dengan "Hablu min an-naas". Dalam ranah ini agama lebih bersifat Publik, titik tolaknya adalah peradaban masyarakat yang terkandung di dalamnya tatanan nilai publik yang relati berbeda antara peradaban satu dengan yang lain.

Dengan demikian beragama secara publik tidak boleh bercampur aduk dengan beragama secara personal begitu juga sebaliknya, karena ranahnya yang berbeda.
Kita membawa nama Tuhan, ketika kita beragama secara personal, kita membawa nilai etika bermasyarakat, ketika kita beragama secara publik.

Dalam beberapa kasus, kita sering menjumpai kesalahan-kesalahan dalam praktek beragama, di mana Agama secara personal dipraktekkan dalam ranah publik. Seperti kasus FPI yang mendeklarasikan Islam di ranah publik secara anarkis, kasus MUI yang kerap menghardik aliran-aliran yang dianggap sesat, kasus MUI Tulungagung yang mengecam pemerintah kabupaten Tulungagung karena menfasilitasi "Festifal Manten Kucing" yang diadakan pemerintah setempat sebagai salah satu kegiatan memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-805 Kabupaten Tulungagung. yang dianggap sebagai penghinaan terhadap Agama karena menyamakan kucing dengan manusia, lebih-lebih menggunakan syari'at Agama Islam.

Tindakan mereka (FPI dan MUI) merupakan praktek yang salah dalam beragama, karena tidak menempatkan diri pada ranah yang tepat. Seharusnya Badan yang mengurusi Agama seperti MUI tidak usah menyoroti hal yang bersifat budaya seperti "Festifal Manten Kucing" lihat http://news.okezone.com/read/2011/01/05/340/410590/kebebasan-beragama-di-jawa-timur-masih-suram, karena hal seperti itu sudah bukan ranah dari MUI meskipun ada hal yang berhubungan dengan Agama Islam yaitu Resepsi Nikah si Kucing, namun yang demikian bukanlah suatu hal yang menjadi kajian MUI, karena meskipun ada aroma Agama di dalamnya, akan tetapi aroma Agama di sini adalah Agama dalam prakteknya, bukan Agama dalam esensinya seperti ketuhanan, iman, dll.

Selain itu, akhir-akhir kita juga sering menjumpai praktek beragama yang terlau menyimpang dengan mencampuradukkan Agama dengan budaya, dalam hal ini identitas Agama sama sekali ditinggalkan. seperti faham pluralisme Agama.
Pluralisme Agama menganggap semua Agama itu sama, kebenaran bukan hanya milik agama yang kita yakini, keselamatan bisa diraih dari semua Agama, karena pada hakikatnya semua Agama menyembah pada Tuhan yang sama, dan pada hakikatnya semua Agama mengajarkan kebaikan.

Menurut kaum pluralis, semua Agama merupakan bentuk parsial dari kebenaran menurut Tuhan. dan Tuhan memberi banyak jalan untuk menuju titik esensial dari kebenaran itu sendiri. kaum Pluralis menafikan sama sekali identitas Agama yang di dalamnya terdapat konsep keimanan kepada Tuhan yang tertentu, praktek beribadah, dan lai-lain yang merupakan garis eksklusif suatu Agama. Semua identitas itu dianggap sebagai bentuk parsial yang relatif (bukan merupakan hal yang esensial dari konsep beragama).

Maka kaum pluralis telah menafikan bentuk objektif Agama, dalam mendiskripsikan Agama, kaum pluralis hanya berdasar pada sisi Subjek (manusia), tanpa menengok pada Objek (Agama). Agama dianggap tak punya hukum, hukum yang berlaku hanyalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan. karena Tuhan memberikan manusia akal untuk mengerti dan memahami nilai dan etika yang digunakan untuk mewujudkan kemashlahatan ummat.
Maka manusia hanya membutuhkan etika dan nilai untuk mencapai kebenaran dan keselamatan. karena esensi dari semua Agama adalah etika dan nilai.

Dengan demikian, Faham pluralisme hanya cocok dipraktekkan dalam ranah publik sebagai bentuk dari kesadaran bermasyarakat dan penerimaan realitas yang plural, seperti halnya ketika kita hidup di Indonesia. Namun dalam praktek beragama secara privat, pluralisme justru menghilangkan salah satu aspek terpenting dalam beragama, yaitu claim truth.

Hal yang demikian adalah praktek mencampuradukkan praktek beragama secara personal dengan beragama secara publik, karena Agama secara Objektif telah berdiri sendiri dan mempunyai identitasnya sendiri, antara Agama satu dengan yang lain tidak dapat disamakan dan dibenarkan semua. karena dalam meyakini kebenaran, kita berada pada ranah personal, dan hal itu tidak seharusnya diwujudkan dalam ranah publik.

Islam Ala Ahmad Wahib

| | 0 komentar |
sobat PAI. Community,
Ahmad Wahib Menafikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai Dasar Islam

Setelah Ahmad Wahib berbicara tentang Allah dan Rasul-Nya dengan dugaan-dugaan, “menurut saya” atau “saya pikir”, tanpa dilandasi dalil sama sekali, lalu di bagian lain, dalam Catatan Harian Ahmad Wahib ia mencoba menafikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai dasar Islam. Dia ungkapkan sebagai berikut:
Kutipan:
” Menurut saya sumber-sumber pokok untuk mengetahui Islam atau katakanlah bahan-bahan dasar ajaran Islam, bukanlah Qur’an dan Hadits melainkan Sejarah Muhammad. Bunyi Qur’an dan Hadits adalah sebagian dari sumber sejarah dari sejarah Muhammad yang berupa kata-kata yang dikeluarkan Muhammad itu sendiri. Sumber sejarah yang lain dari Sejarah Muhammad ialah: struktur masyarakat, pola pemerintahannya, hubungan luar negerinya, adat istiadatnya, iklimnya, pribadi Muhammad, pribadi sahabat-sahabatnya dan lain-lainnya.” (Catatan Harian Ahmad Wahib, hal 110, tertanggal 17 April 1970).

Tanggapan:
Ungkapan tersebut mengandung pernyataan yang aneka macam.
1. Menduga-duga bahwa bahan-bahan dasar ajaran Islam bukanlah Al-Quran dan Hadits Nabi saw. Ini menafikan Al-Quran dan Hadits sebagai dasar Islam.
2. Al-Qur’an dan Hadits adalah kata-kata yang dikeluarkan oleh Muhammad itu sendiri. Ini mengandung makna yang rancu, bisa difahami bahwa itu kata-kata Muhammad belaka. Ini berbahaya dan menyesatkan. Karena Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah SWT yang dibawa oleh Malaikat Jibril, disampaikan kepada Nabi Muhammad saw, diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun lebih. Jadi Al-Qur’an itu Kalamullah, perkataan Allah, bukan sekadar kata-kata yang dikeluarkan Muhammad itu sendiri seperti yang dituduhkan Ahmad Wahib.

Allah SWT menantang orang yang ragu-ragu:
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS Al-Baqarah: 23).

3. Al-Qur’an dan Hadits dia anggap hanya sebagian dari sumber sejarah Muhammad, jadi hanya bagian dari sumber ajaran Islam, yaitu Sejarah Muhammad. Ini akal-akalan Ahmad Wahib ataupun Djohan Effendi, tanpa berlandaskan dalil.

4. Al-Qur’an dan Hadits disejajarkan dengan iklim Arab, adat istiadat Arab dan lain-lain yang nilainya hanya sebagai bagian dari Sejarah Muhammad. Ini menganggap Kalamullah dan wahyu senilai dengan iklim Arab, adat Arab dan sebagainya. Benar-benar pemikiran yang tak bisa membedakan mana emas dan mana tembaga. Siapapun tidak akan menilai berdosa apabila melanggar adat Arab. Tetapi siapapun yang konsekuen dengan Islam pasti akan menilai berdosa apabila melanggar Al-Qur’an ddan AAs-Sunnah. Jadi tulisan Ahmad Wahib yang disunting Djohan Effendi iitu jjelas mmerusak pemahaman Islam dari akarnya. Ini sangat berbahaya, karena landasan Islam yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah/ Hadits telah dianggap bukan landasan Islam, dan hanya setingkat dengan adat Arab. Mau ke mana arah pemikiran duga-duga tapi sangat merusak Islam semacam ini?

Pandangan-pandangan berbahaya semacam itulah yang diangkat-angkat orang pluralis (menganggap semua agama itu paralel, sama, sejalan menuju keselamatan, dan kita tidak boleh melihat agama orang lain pakai agama yang kita peluk) yang belakangan menamakan diri sebagai Islam Liberal.

Pluralisme dan Pluralitas Agama

| Minggu, 09 Januari 2011 | 1 komentar |
sobat PAI. Community,
"Pluralisme Agama memang membutuhkan pengakuan, baik secara personal, komunal maupun institusional. Namun Pluralitas Agama tidak. Pluralitas Agama butuh pengakuan dan perlakuan penuh harga"

Pluralisme telah menjadi salah satu isme yang mengglobal. Di mana-mana orang menganggap bahwa menghargai perbedaan adalah perasaan dan tindakan yang identik dengan pluralisme. Walau pun sebenarnya pluralisme  bisa dimaknai dalam perspektif yang jamak, namun dalam catatan ini pluralisme yang dibicarakan adalah pluralisme agama.  Saya sebut agama karena pluralisme dalam pengembangan konsepnya yang modern lebih banyak berkutat soal agama-agama dan pengembangannya di Indonesia juga sangat concern terhadap persoalan-persoalan yang timbul sebagai akibat dari perjumpaan (pemeluk) agama-agama yang berbeda-beda.
Penolakan terhadap pluralisme agama (sebagaimana dilakukan MUI dan juga berbagai pihak yang tidak terpublikasi) adalah hal yang sama sekali wajar dan biasa. Sebab seperti biasanya suatu paham/perspektif perlu untuk disetujui baru kemudian diterima atau malah sebaliknya, tidak disetujui dan lantas ditolak. Penolakan terhadap isme tertentu bukan pula hal yang baru terjadi, sebut saja komunisme dan atheisme yang telah ditolak oleh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, agar diterima dan diberlakukan, suatu isme, misalkan pluralisme agama sangat membutuhkan persetujuan (consent), baik personal, komunal, maupun institusional.

Ada banyak alasan mengapa orang-orang menolak pluralisme agama. Pluralisme agama ditolak karena dicurigai sebagai suatu agama global dengan misi penghapusan identitas agama-agama, penghapusan klaim kebenaran, dan bertentangan dengan standar-standar nilai tertentu, misalnya kitab suci, dogma, dan sebagainya. Orang yang menerima pluralisme agama dan mengembangkannya pun punya alasan sendiri dan hal ini tidak perlu menjadi menjadi masalah karena tidak memiliki cukup alasan.

Pluralisme agama adalah paham/perspektif baru terhadap realitas kehidupan beragama yang beragam. Interaksi lintas batas yang meningkatkan intensitas perjumpaan pemeluk agama yang berbeda-beda, politisasi agama, dan konflik bernuansa agama memungkinkan pluralisme agama berkembang dengan cepat dalam rangka penciptaan solusi dan proyeksi hidup bersama yang damai antara agama-agama yang berbeda. Tujuan yang mulia ini sekiranya tidak ditolak. Tetapi jika ada penolakan terhadap pluralisme agama, maka tidak jadi soal karena tidak akan berdampak serius. Bagi saya, jika saudara-saudari mau menerima dan mengembangkan pluralisme agama atau mau menolak dan mengharamkannya, silahkan saja sebab pluralisme agama pun bukan perspektif tunggal untuk memahami realitas beragama yang plural di Indonesia. Pluralisme agama, pada dirinya sendiri, juga memiliki keragaman. Bandingkanlah pluralisme agama a la Cobb dengan pluralisme agama a la Hick. Karena itu, percayalah, tidak akan terjadi konflik antar agama jika anda menolak pluralisme agama.

Hal pluralisme agama tentu sangat jauh berbeda dengan pluralitas agama. Jika pluralisme agama adalah perspektif untuk memahami realitas beragama yang plural, maka pluralitas agama adalah eksistensi agama yang plural di Indonesia yang berupaya dipahami dari perspektif tadi. Pluralisme agama adalah suatu paham atau perspektif sedangkan pluralitas agama adalah eksistensi.

Persoalan kita kini tidak terletak pada penerimaan atau penolakan terhadap suatu isme (pluralisme agama), melainkan pada pengakuan terhadap pluralitas agama sebagai ayng eksistensial dari bangsa kita. Banyak orang tidak berhasil untuk membedakan dua hal yan hampir mirip ini (pluralisme agama dan pluralitas agama) dan kekeliruan ini berdampak serius. Perhatikanlah, persetujuan (consent) yang sebenarnya mesti terarah pada pluralisme agama sebagai paham sering diarahkan secara salah kepada pluralitas agama sebagai yang eksistensial, yang sesungguhnya tidak membutuhkan persetujuan dari siapa pun.

Masalah yang muncul dalam interaksi antara pemeluk agama yang berbeda-beda di Indonesia akhir-akhir ini, menurut saya, mungkin juga bersumber dari ketidakmampuan untuk membedakan pluralisme agama dengan pluralitas agama. Lihatlah bahwa beragama (beribadah, membangun tempat ibadah, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya) di Indonesia masih sangat memerlukan persetujuan dari pihak tertentu. Padahal beragama adalah kehidupan kedua setelah eksistensi agama diakui, oleh karena itu beragama menjadi juga sesuatu yang eksistensial yang turut menjadi pilar bangsa dan sesuatu yang eksistensial itu tidak membutuhkan persetujuan. Eksistensi agama yang berbeda-beda di Indonesia hari ini tidak membutuhkan persetujuan melainkan pengakuan yang sadar dari semua orang dan perlakuan yang  penuh harga.

Upaya pengingkaran atas realitas yang plural inilah yang memunculkan banyak masalah. Agama-agama sebagai realitas yang eksistensial dipaksa untuk hanya bisa menjadi ada atau tidak ada berdasarkan persetujuan dari pihak tertentu. Setiap orang yang hendak menyangkali realitas eksistensial agama-agama di Indonesia sebenarnya sedang memaksa diri untuk menciptakan dunia mimpi yang tidak pernah bisa jadi nyata, sebab titik pijak untuk mencapai tujuan tadi bukan kenyataan karena (sekali lagi) agama-agama sebagai eksistensi tidak membutuhkan persetujuan, melainkan pengakuan dan perlakuan penuh harga.

Mengingkari eksistensi agama yang jamak menjadi akar dari masalah-masalah relasi antar (pemeluk) agama-agama di Indonesia dan masalah-masalah yang muncul dalam relasi antar (pemeluk) agama ini bisa terselesaikan bahkan mungkin terbangun secara baik jika setiap orang menyadari realitas berbangsa hari ini. Bangsa kita adalah bangsa yang penuh dengan pluralitas (multi-agama, multi-etnis, dsb).

Kehidupan beragama dalam kenyataan yang plural di Indonesia bisa lebih baik lagi jika realitas beragama yang plural itu terinternalisasi dan menjadi kesadaran bersama. Akhirnya, terhadap realitas agama yang plural di Indonesia dan kepada semua pemeluk agama saya ucapkan selamat beragama. Anda tidak butuh persetujuan dari siapa pun untuk hal itu !

Jalan Pintas

| | 1 komentar |
Banyak orang bilang agama hanyalah jalan keselamatan. Banyak juga yang bilang agama-agama adalah penunjuk jalan ke “surga”. Baiklah, mari kita sepaham. Saya tidak keberatan jika ada yang percaya bahwa surga itu ada. Surga sebagai tempat di mana semua orang yang ‘selamat’ akan hidup kekal bersama dengan Allah, tempat yang keindahannya tidak tertandingi, tempat yang tidak bisa dipenjara dalam kata atau konsep. Saya juga tidak keberatan jika ada yang yakin bahwa tempat seperti itu tidak ada. Sebab, baik yang percaya maupun yang tidak, keduanya belum pernah ke sana. Jadi, klaim masing-masing memiliki bobot yang sama.



Agama-agama adalah penunjuk jalan ke “surga”. Tempat tinggal Allah bersama para malaikatnya dan orang-orang suci yang telah mati dan hidup kembali. Kita tidak pernah tahu orang suci dari agama mana yang paling banyak di surga, jadi klaim agama-agama tertentu sebagai penunjuk jalan yang paling benar sebaiknya disimpan untuk diri sendiri saja, sebab semua umat beragama yang hidup sekarang ini masih ‘buta’ surga atau belum tahu di mana tempat tinggal Allah itu.
Jadi, tidak salah jika validitas agama-agama sebagai penunjuk jalan ke “surga” yang jauh di sana itu diragukan dan tidak salah juga untuk diyakini. Sebab tidak ada yang lahir di sana dan merantau ke bumi lalu setelah beberapa lama ingin pulang kampung dan tahu betul jalan ke sana.

Saya sendiri tidak senang jika agama disebut sebagai penunjuk jalan ke tempat tinggal Allah, saya lebih senang jika agama disebut sebagai pencipta surga. Baiklah, mari sepaham. Surga yang ini, bukan surga yang jauh, tapi surga yang di sini. Surga kita. Agama-agama pada titik sinergisnya bisa mengubah bumi menjadi surga. Wah, pasti sangat indah ! Tapi, sayang sekali karena hal-hal yang masih sangat jauh dan iman yang terlalu ‘surgawi’ maka surga kita di sini terlindas.
Banyak orang beragama hendak menguasai dan mengatur orang yang beragama lain, hanya dengan modal yakin bahwa agamanya adalah penunjuk jalan yang paling benar ke tempat tinggal Allah. Banyak orang menggadaikan surga hari ini hanya untuk sebuah perjalanan penuh balas dendam dan penaklukan. Jalan menuju tempat tinggal Allah meninggalkan jejak-jejak hitam dan merah di bumi, surga kita. Beragama sebagai ziarah menuju surga menjadi perjalanan monopoli kebenaran, penaklukan, peminggiran, dan dominasi. Perjalanan menuju surga meninggalkan neraka di setiap jejak-jejak kaki. Banyak orang berjalan ke surga dengan menempuh neraka sebagai jalan pintas.

Agama-agama bukan penunjuk jalan ke surga, tempat tinggal Allah. Agama-agama punya kekuatan,  kekuatan untuk menciptakan surga: kondisi di mana semua orang bisa hidup  dalam beda, berdampingan dalam damai, saling berbela rasa, tidak korup, penuh cinta kasih, dan cinta alam sebagaimana yang dicita-citakan bersama. Agama-agama bukan penunjuk jalan ke surga yang jauh, agama-agama adalah pencipta surga di sini dan itu berarti bahwa beragama adalah bagaimana menghadirkan surga di sini, hari ini. Beragama itu seharusnya menjadi perjalanan menuju surga sambil menghadirkan surga supaya menyisakan jejak-jejak kasih dan pengertian di bumi.